July 15, 2009

Aku dan Kue Cokelat


Jika hidup layaknya gelembung sabun. Dia terlalu rapuh untuk bertahan. Melayang sekejap ke angkasa. Lalu musnah oleh cubitan udara dan gelombang. Hanya sesaat dia menikmati sensasi transformasi dari cairan sabun bening menjadi gelembung ringan yang mengawang-awang. Namun, sekali lagi. Dia terlalu rapuh. Layaknya hidup yang tak mampu beradaptasi dengan perubahan. Itukah aku?
Jika hidup layaknya sebatang lilin. Dia terlalu penyayang. Mengorbankan dirinya untuk mampu menerangi sekitarnya. Agar seorang anak dapat membaca buku di balik keremangan. Agar penduduk tak perlu gelisah karena listrik padam. Agar sepasang insan dapat makan malam dengan nuansa kemewahan. Lantas, dia hanya bisa menyaksikan dengan kepasrahan. Perih? Mungkin. Senyum? Entahlah. Menunggu mati? Pasti. Namun, sekali lagi. Dia terlalu penyayang. Layaknya hidup yang dipenuhi kekuatan kasih dan pengorbanan sejati. Masihkah ada?
Jika hidup layaknya sepotong kue coklat. Inilah hidup yang kupilih. Nikmat. Hangat. Sederhana tapi istimewa. Selalu ditunggu dan dinanti pengagumnya. Entahlah. Siapa yang akan jadi pengagumku? Tak perlu khawatir. Ummi dan aku adalah pengagum sejatiku. Aku ingin menjadi sepotong kue coklat untuknya. Yang mencegahnya dari lapar. Yang manisnya mengobatinya dari pahit dan getirnya hidup. Yang aromanya membuat dia terlelap dalam senyum. Yang kehadirannya menghangatkan hatinya yang kalut...

2 comments:

guguh said...

mampir baca tulisanmu y
..
hmmmmm... kue coklat y!!

wah, jadi laper

creamy_cha said...

silakan...
coklat itu memang begitu hangat...
^^