May 16, 2010

chit chat - the best medicine after love and friendship


Chitchat – the best medicine after love and friendship :)

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan dan curhat pada tanggal 14 Mei 2010 tepatnya setelah kuliah SPA. Kelas sepi, masih ada beberapa yang pulang kampung *sigh*. AC di ruang I 203 sangat dingin, dan guyonan dosen terdengar garing. Tapi ada dua kalimat dari pak dosen yang sangat membekas, “sediakan ruang untuk ekspresi masa mudamu”, dan “hidup itu selamanya – kita hanya berganti fase-fase kehidupan, hanya perpindahan tempat, bukan kematian”. Akhir-akhir ini saya selalu mengingat kalimat-kalimat inspiratif yang secara langsung ataupun tidak langsung disampaikan dosen saat kuliah. I love it :)


Pada awalnya, hari itu, saya berniat untuk tidak makan. Hanya karena makan siang seafood di traktiran keluarga dan dinner nasi goreng dari seorang sahabat di hari sebelumnya– saya sudah merasa bersalah, merasa obesitas, maraaaah. Huks, benar-benar gangguan mental. Mungkin ini gejala anorexia dan *sigh* serem juga membayangkannya.

Tapi, saya lapar, lapar hati, butuh ngobrol. Akhirnya saya dan Deasy Mayasari memutuskan lunch di Bintaro Plaza. Sup hangat dan ayam krispy, nyamnyam ^___^ Walau cukup mahal untuk makanan ala anak kosan, hehe, tapi bukanlah apa-apa untuk nilai sebuah curhatan, persahabatan, dan pelajaran hidup yang saya terima. That’s why I called chitchat as one of the best medicine ever :)

Pelajaran pertama yang saya peroleh adalah memahami. Seorang sahabat yang sudah hampir tiga tahun saya kenal, ternyata masih banyak hal lainnya yang belum saya tahu, dan belum saya gali. And this chitchat really helps :). Sangat penting memahami sahabat kita, memahami orang-orang yang kita sayang, dengan melihat lebih dalam dan menjelajahi hidupnya, masa kecilnya, impian-impiannya. Oleh karena itu saya mengerti mengapa bicara dan saling terbuka adalah kunci kesuksesan sebuah hubungan. Dan bukankah pengertian adalah mata air dari persahabatan dan cinta?:) Mungkin ini salah satu esensi dari icebreaking saat mata kuliah SPA – saat kita diminta untuk memandangi orang yang duduk berdampingan dengan kita.

“Jika memandang dan mengenalnya secara fisik saja tidak bisa, bagaimana kita bisa memandang dan mengenal hatinya?”
Exactly!!! :)

Pelajaran kedua adalah berpikiran positif. Sepertinya sudah banyak motivational quotes yang saya tahu, buku-buku seperti the Secret, Quantum Ikhlas, Chicken Soup yang saya baca, dan tayangan Mario Teguh yang saya tonton. Tetapi tetap saja tak ada bekasnya. Mungkin karena semua materi itu hanya saya kunyah, saya telan, tapi tak saya cerna, sehingga tak ada manfaatnya. Bacaan hanya jadi pengisi waktu luang dan kalimat-kalimat inspiratif itu hanya jadi hapalan dan hiasan kamar *sigh*. Tapi, dari mulut sahabat saya ini, saya mulai menemukan hal berbeda, saya menemukan esensinya.

Yang terpenting adalah bagaimana saya menghargai diri saya. Entahlah, perfeksionisme ini benar-benar membunuh. Jika orang lain sudah menganggap saya beruntung dan sempurna, tetapi, saya tetap merasa berkekurangan. Dan mulai saat itu saya sadar bahwa saya tidak punya konsep diri yang kuat – mencintai anugerah Allah dengan sepenuhnya. Dan tak perlu minder, sayang. Membangun percaya diri itu sangat penting. Percaya bahwa kita istimewa. Percaya bahwa selalu ada jalan keluar di balik setiap masalah. Percaya bahwa apa yang kita lakukan dan pikirkan hari ini berpengaruh untuk esok hari, esok harinya lagi, dan beberapa tahun ke depan. Dan jadilah bahagia, berbagilah bahagia, panenlah bahagia :)

Pelajaran tentang berpikir positif lainnya adalah tentang menjadi cantik. Beauty reflected when you can treat your self beautifully. “Berbuat baik untuk orang lain memang penting, tapi jangan lupa untuk berbuat baik terhadap diri sendiri”, pesan sahabat saya. Yah, kini saya telah terjerumus ke dalam persepsi wanita pada umumnya – diet. Seorang wanita dewasa bisa kehilangan akal sehat jika berkaitan dengan berat badan. Haaah, sudah beragam pola diet saya coba, tapi tak ada yang bisa membuat berat badan turun drastis dan bikin saya jadi skinny *hehe. Sebagai pembawa gen Arab, rasanya impossible punya bentuk tubuh kayak gadis ceking Korea :P*. Soooo? It’s meee, perfect me. Why do we expect others’ gifts if we’ve got our own? That’s right.

Lalu sahabat saya ini pun berbagi rahasia. “Visualisasikan bahwa engkau berada dalam berat badan idealmu, makan makanan yang sehat dan engkau suka, percayalah, jangan memaksakan diri, metabolisme akan mengikuti apa yang ada dalam pikiranmu, alam akan menarik pikiran positifmu, dan tubuhmu secara biologis akan mengikuti apa yang kita pikirkan. Dan lama-lama berat badan akan turun, karena kita bahagia, kita percaya, kita menerima, and it happens to me”.

Woooow.

“Jangan terlalu banyak memberi peraturan pada tubuh dengan tidak makan ini-itu, karena tubuh akan mengikuti peraturan itu dan bersikap berbeda jika kita melanggar peraturan tersebut. Tapi tetap dalam batas makanlah makanan yang sehat”.

Another woooow!!!

“Orang-orang yang tetap kurus walau makan banyak selalu berpikir bahwa dia akan tetap kurus dan makanan tidak akan mengubah berat badan, orang-orang yang terkekang diet selalu berpikir tidak makan akan menjadikan kurus dan makan sedikit saja akan menambah berat badan, dan orang-orang yang terlanjur obesitas sudah terbiasa berpikir dan menerima bahwa makan apapun akan tetap begini, tanpa berusaha menjadi ideal…”

Woooooooooow!!!

Ternyata benar, kita adalah apa yang kita pikirkan ^___^
I change my way of thinking and get happy eating. No more deathly diet, insya Allah.

Pelajaran ketigaaaaaaaaaa, jreng-jreng, couple’s story. Penting! Sungguh tidak semua orang bisa diajak bicara mengenai hal relationship, ga syar’i, masih kecil, ga boleh, ga penting *sigh. Hey, you there, that’s about dealing with life… TT*. Dan saya pun merekam setiap kalimat dari sahabat saya ini dengan mata berkaca-kaca :)

Kata sahabat saya, “Banyak yang bilang bahwa seorang pria baik bisa dikenali setelah dia menjalani hubungan selama tiga bulan. Setelah tiga bulan, biasanya pria itu berubah. Tapi jika dia tidak berubah, bahkan sayangnya semakin bertambah, itulah dia yang sebenarnya, tanpa topeng, dan dia memang baik. Lalu apa yang engkau khawatirkan? Dia telah bersedia menunggu cukup lama”.

Saya termangu, she said that mine is sweet story, kisah ini memang tanpa kata, tapi pasti :).

“Saat kita berada pada kondisi meyakinkan hati pada seseorang, dan masih berpikiran akan bertemu orang lain, jangan berusaha berpaling, karena akan mengabaikanmu untuk menerimanya sebagai yang terbaik. Karena kita semua ingin jadi prioritas, bukan jadi pilihan kan?”.

Saya mengangguk-angguk.

“Karena kita tidak sempurna, pasangan kita juga tidak sempurna, makanya saling melengkapi. Kita semua ingin orang yang berada di sisi kita sampai tua, yang mencintai kita di saat cantik, tetapi juga tetap mencintai kita di saat sangat jelek, yang mencintai kita di saat sehat, tetapi juga di saat sakit, yang mencintai kita di saat langsing dan saat sangat gemuk sekalipun – saat selesai melahirkan, saat menyusui, dan pada akhirnya kita juga akan keriput… Yang selamanya, itu yang kita cari, icha”.

Sungguh, saat itu saya nangis :’( dan saya mulai yakin dan saya yakin!

“Sungguh, tak ada hubungannya dengan karier atau cita-cita atau apa yang ingin engkau raih, semua ada dalam pikiran dan usahamu sendiri, jika tidak bisa diraih sendiri tak ada salahnya kan diraih berdua?” *tuink-tuink*

Muka saya memerah. Saya tersenyum dan hampir menangis dalam waktu bersamaan. Di balik sahabat saya ini, dia punya pelajaran penting tentang kehidupan. Tak terasa dua jam kami berbagi asa dan rasa.

Of course, I’m looking forward another moment like that ^___^



Yupppoooo. Agreed! Chitchat is the best medicine after love and friendship, the primary needs of human being, and the way of learning about maturity and life :)

*punten pisan yaaa, sekalian curcol neh, hehe* :P

No comments: