May 27, 2010

Dear Chocolate, how can i love you so crazy?

“Gravitation is not responsible for people falling in love.” -Albert Einstein

Of course, i don't have to blame anyone even gravitation that make me love-adore-admire chocolate! Hehe.

Saya harus berterima kasih kepada Casparus dan Coenraad Johannes van Houten (foto) - penemu pertama makanan cokelat. Kisah ayah anak Van Houten ini dimulai pada tahun 1828 di Amsterdam. Casparus menemukan cara untuk memisahkan lemak dari biji coklat, lalu Coenraad berhasil mengolahnya menjadi coklat bubuk dengan kadar asam rendah. Inovasi ini mempermudah coklat bubuk larut dalam air dan melembutkan cita rasa coklatnya. Hasilnya, coklat bubuk bisa dikonsumsi dalam bentuk minuman dan kreasi panganan yang nikmat serta ramah pencernaan.

Inovasi yang dipatenkan oleh Raja William IV ini kemudian dikenal dunia dengan nama the dutching process. Inovasi ini juga mendorong produksi coklat secara masal di Eropa pada abad ke 19, baik dalam bentuk bubuk maupun batangan. Pabrik mereka dikenal dengan nama "The Eagle" (seperti logonya) berpindah-pindah dari Amsterdam, Leiden, dan Weesp. Saat ini terdapat museum Van Houten di Weesp yang menyimpan koleksi-koleksi material dan advertising pada saat itu.


Thanks master! :)

AWAL DITEMUKANNYA RESEP COKELAT

Suku Indian Maya adalah yang pertama menciptakan minuman dari biji kakao yang dihancurkan yang hanya dapat dinikmati oleh kaum bangsawan atau pada upacara ritual suci.



Peran penting cokelat dalam kerajaan Aztec juga tercatat dengan jelas. Mereka menamakan minuman berharga dari biji kakao tersebut sebagai "xocolatl" yang berarti "air yang pahit". Rasa cokelat asli memang pahit sedangkan cokelat yang sering kita makan selama ini umumnya telah banyak dicampur dengan gula dan susu sehingga terasa manis.

Seperti para pendahulunya, orang-orang Aztec meminum cokelat hangat tanpa pemanis hanya pada upacara-upacara spesial. Montezuma II, salah satu raja Aztec, menyimpan sejumlah besar biji cokelat dalam sebuah gudang besar dan mengkonsumsi minimum 50 cawan cokelat hangat setiap hari dari sebuah cawan emas.

Oang-orang Eropa pertama kali mengenal coklat dari suku Maya di Amerika Tengah. Saat itu mereka diundang ke Istana dan disuguhi minuman dari buah yg dikocok-kocok terus sampai berbusa. Rasanya memang enak tetapi sangat pahit. Oleh karena itu, orang Eropa membawa ke daerahnya dan ditambahin gula, jadilah minuman coklat.


PERBEDAAN CHOCOLATE DAN WHITE CHOCOLATE

Yang dimaksud “coklat” adalah makanan yang berasal dari biji cacao, kebetulan dalam bahasa Indonesia, makanan cokelat itu berwarna “coklat”. “Coklat putih” itu berasal dari lemak biji cacao tadi. Jadi sama sekali tidak mengandung “coklat” namun memiliki bentuk dan karakter yang serupa dengan coklat.

Dalam proses pembuatannya lemak itu di campur dengan susu dan gula dan akhirnya menjadi “coklat putih” tadi. Beberapa permen “coklat putih” juga dibuat dari lemak hewan. Dari sisi kesehatan, coklat mengandung kafein, sementara “mentega cocoa”/coklat putih banyak mengandung lemak sangat jenuh.


BEBERAPA MANFAAT COKELAT UNTUK KESEHATAN

Biji coklat mengandung lemak 31%, karbohidrat 14% dan protein 9%. Protein coklat kaya akan asam amino triptofan, fenilalanin, dan tyrosin.

Coklat mempunyai kemampuan untuk menghambat oksidasi kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, sehingga dapat mencegah risiko penyakit jantung koroner dan kanker.

Katekin adalah antioksidan kuat yang terkandung dalam coklat. Salah satu fungsi antioksidan adalah mencegah penuaan dini yang bisa terjadi karena polusi ataupun radiasi.

Coklat mengandung antioksidan flavonoids yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu penganan manis ini mengandung phenylethylamine. Senyawa kimia alamiah tersebut memiliki efek seperti amphetamine yang bisa menimbulkan perasaan bahagia dan mood yang menyenangkan.

Selama ini ada pandangan bahwa permen coklat menyebabkan jerawat, caries pada gigi dan mungkin juga bertanggung jawab terhadap munculnya masalah kegemukan. Tetapi studi di Universitas Harvard ini menunjukkan bahwa jika Anda mengimbangi konsumsi permen coklat dengan aktivitas fisik yang cukup dan makan dengan menu seimbang, maka dampak negatif coklat tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Hanya saja coklat perlu diwaspadai, khususnya bagi orang-orang yang rentan menderita batu ginjal. Konsumsi 100 g coklat akan meningkatkan ekskresi oksalat dan kalsium tiga kali lipat. Oleh karena itu kiat sehat yang bisa dianjurkan adalah minumlah banyak air sehabis makan coklat.

Of course, i must say and agree with this statement:
"Chemically speaking, chocolate really is the world's perfect food! Nothing is more romantic than chocolate."

3 comments:

Yoga Azmat Khan said...

o mi Dios... muy delicioso.
Icha suka coklat ya? pantesan manis :p, hehe.

abe said...

owh, jadi begitu ya silsilah coklat....


hmh...suka coklat tapi gag begitu addict sih... :D

creamy_cha said...

@yoga: eeehm, ga perlu dijawab :)

@abe: iya, smoga bermanfaat yah. cha sangat suka cokelat mulai dari rasa hingga warna, tp ngga smp addicted juga... :)

thx for comment guys