May 24, 2010

"kak, dedek juga bisa..."

Kisah ini kudedikasikan untuk adikku tercinta, Fadil Badres, seorang bocah yang belum genap berusia 12 tahun dan sebentar lagi insya Allah akan beranjak SMP. Hobinya makan, main game, dan masih seperti bayi yang belum bisa melakukan hal-hal sederhana untuk dirinya sendiri. Dia, si bungsu, adikku satu-satunya yang sampai saat ini sering membuatku ngiri.

Menjadi anak bungsu tidaklah seindah yang dibayangkan. Adikku selalu menjadi korban 'perbandingan' saudara sedarah. Jika dia tidak melakukan apa yang dulu aku lakukan saat seusianya, apakah itu salah? Jika dia belum bisa meraih piala selain piala bayi sehat, apakah itu juga salah?

Setiap anak memang ingin dipuji, pantas dihargai. Itu juga yang diperjuangkan oleh adikku tersayang. Prestasinya terus meningkat hingga pada akhirnya dia masuk peringkat lima besar. Dan, lima hari yang lalu, saat akan diadakan acara perpisahan sekolah, dia memberanikan diri untuk menjadi protokol acara. Sayangnya, bocah ini tidak tahu tugas protokol itu apa. Dia hanya ingin tampil seperti teman-temannya yang lain dan dianggap bisa, layak.


Di latihan pertama, dia bingung, takut, gugup, hingga menangis. Takut karena dihantui bayang-bayang guru pembimbing dan pelatih yang terus memojokkannya. Sementara itu, ini baru pertama kali untuknya tampil di muka umum. Akhirnya adikku mengadukan diri ke mama kalau dia menyerah, tak mampu. Tapi, mama terus mendukungnya hingga dia terus bertahan hingga ke latihan terakhir. Hal yang sangat sederhana, memang, namun aku terharu saat adikku mengirimkan wall ke facebook dengan kalimat "kak ica adil perpisahannya jadi protokol doain ya semoga berhasil".

Minggu, 23 Mei 2010. Inilah saatnya. Aku harap-harap cemas menunggu kabar dari mama. Pukul 5 sore, mama memberiku kabar, "Fadil hebat sekali. Banyak yang memujinya. Dia bisa tampil dengan baik, tanpa gugup. Tak ada yang menyangka kalau adikmu yang selalu dianggap orang gendut dan tidak bisa apa-apa itu bisa menunjukkan potensinya. Dia bagus sekali..."

"Abah dan mama datang?"

"Iya, kami datang. Waktu melihat kami datang, dia semakin bersemangat dan dengan bangga menunjukkan kalau dia bisa..."

Wah, aku terharu.
Adikku adalah sebuah figure yang ingin keluar dari ketidakadilan opini orang-orang dan korban 'perbandingan' saudara sedarah. Dan, lagi-lagi, dia bisa membuktikan bahwa dia mampu, dia berhasil melumpuhkan ketakutannya, dan membuat mama, abah, dan aku sangat bangga.

Setiap orang punya potensi masing-masing. Lalu, kenapa harus menjudge kemampuan orang lain? Sayangnya, orang tua dan masyarakat sangat sering membandingkan anak-anak mereka sendiri padahal hal tersebut memberikan stimulus negatif buat perkembangan dan citra diri anak.

Berilah kesempatan, karena sungguh, setiap anak itu istimewa....

4 comments:

hura-hura sentosa said...

wiiii... nice post ca... so sweet dah... jadi kangen m kakakq..
haha...
dh jrg ngumpul lg..huhu..
kaka jg sbg temen.. sealiran.. sama2 pny jiwa muda, g terlalu sok dewasa.. haha..

creamy_cha said...

makasih gayuuuh, kangen keluarga yah...
apalagi icha cuma dua bersaudara jd smakin terasa kangennya :)

thanx for comment ^^

Mufti said...

Sangat setuju, seorang anak dianugerahi Allah kelbihan dan kekurangan dalan jiwa setiap anak ada potensi....ortu hrus mulai fokus terhadap perkembangan tubuh jg perkembangan Iq, juga bakat 9ada istilah bakat terpendam..muncul saat dewasa dan terpaksa krn dorongan semangat)peran ortu dan saudara permepuan (spt Icha) sngt diharapkan.Super Icha

creamy_cha said...

@mas mufti: iyaa mas, karena setiap anak itu istimewa :)