May 16, 2010

my childhood


Back when I was a child…
Before life removed all the innocence…
.
Lagu itu sungguh mengingatkanku pada kenangan masa kecil. Masa yang menjadi komposisi utama adonanku saat ini. Sadar atau tidak, masa kecil memang memberi pengaruh terkuat pada kepribadian kita saat dewasa.

Masa kecilku dihabiskan 9 tahun menjadi anak tunggal sebelum lahirnya Fadil, adikku satu-satunya. Hingga saat ini sindrom terlena sempat menjadi anak tunggal masih terasa sampai sekarang, misalnya aku ingin terus memiliki mama, ingin selalu cari perhatian, jadi prioritas, dan sering jealous pada adikku sendiri. Oops >.<

Yang kuingat dan kulihat dari memori masa kecil adalah aku sangat bahagia dan orang tuaku membesarkanku dengan sangat baik, dan penuh cinta. Ada banyak foto dalam berbagai album yang menunjukkan aku sangat sehat. Dengan penghasilan yang pas-pasan, orang tuaku selalu berusaha agar giziku selalu terpenuhi, tanpa kurang apapun. Dan inilah hasilnya, aku, yang pipinya sudah chubby sejak kecil :)




Dari kecil, aku sudah ditanamkan untuk gemar membaca dan mencintai ilmu. Setiap malam hari, abah selalu mengajariku berhitung dengan korek api dan mama membimbingku membaca tanpa mengeja. Setiap pagi aku duduk di samping abah yang sedang memperbaiki alat elektronik yang rusak sambil melihat-lihat buku bergambar skema dan membantu abah mencarikan resistor sesuai warnanya. Kita sangat menikmati saat-saat itu. Aku masih menyimpan buku-buku yang berisi tulisan pertamaku, hingga majalah donal bebek pertama yang kubaca dimana saat itu harganya masih Rp 1200,- dan sampai saat ini masih kuingat ceritanya. Saat pulang, sungguh, aku suka mengenang itu semua.

Aku suka melukis. Dari kecil, aku suka ikut berbagai lomba. Gambar kesukaanku adalah hamparan pemukiman bersalju, dan dinamika Jakarta yang diwarnai dengan krayon pentel dan saat ini masih terbingkai rapi di dinding rumah. Sayang sekali, aku tak meneruskannya. Saat itu, modal dan les buat melukis memang sangat mahal, dan tetap saja, sayang sekali, aku tak meneruskannya :(

Tinggal di kawasan perkotaan bertetangga Tionghoa membuatku tidak punya banyak teman. Bahkan aku tak tahu siapa nama tetangga sebelah rumahku sendiri. Aku gadis tertutup, pemalu, pendiam, dan tidak punya banyak teman saat itu. Teman sebayaku hanya satu orang yang lahirnya satu hari sebelumku dan tinggal dua rumah dariku. Rutinitasku hanya belajar, atau bermain sendiri. Mainanku sangat banyak, ada berbagai boneka, masak-masakan, rumah-rumahan, balok susun, dan permainan elektronik yang tersimpan satu lemari penuh. Semua dilakukan sendiri. Jujur saja, aku tak bisa naik sepeda, main layangan, dan tak pernah kenal berbagai permainan tradisional masa kecil kecuali petak umpek atau kejar-kejaran yang dilakukan di sekolah *sigh*.

Aku sudah berkacamata sejak kelas dua SD. Kenyataan yang menyebalkan. Terlalu banyak membaca sambil tidur, itu sebabnya. Kacamataku sangat besar, framenya warna-warni, sungguh membuatku seperti Betty La Fea (ditambah rambut ikal– yang sebenarnya sexy :P – lengkap sudah!), dan tak percaya diri – padahal modelnya aku yang pilih :(. Setiap bertemu orang-orang, sepupu-sepupu, aku tak mau mengenakannya. Aku malu, rasanya aneh, nerd, clumsy. Musuhku saat itu adalah tukang sate Padang di depan rumah yang menurutku tampangnya sangat aneh dan selalu menunjukkan tawa aneh kalau melihatku mengenakan kaca mata. Entahlah, itu perasaanku saja. Musuh berikutnya adalah dokter mata *sigh* aku sangat takut dengan vonisnya bahwa minusku naiiiik. Benar saja, minus mataku naik drastis menjadi lima sampai sekaraaaang. Tapi, zaman berubah, terima kasih pada teknologi yang telah menemukan sebuah benda ajaib bernama softlens, huhu.

Kecenderunganku untuk bersikap perfeksionis juga sangat berkaitan dengan pola pengasuhan di masa kecil. Aku dituntut utuk jadi yang terbaik, harus selalu jadi juara kelas, harus dapat nilai sepuluh, harus ikut lomba ini-itu. Setiap pulang ke rumah, tasku selalu diperiksa, dilihat nilai-nilainya dan kerapian tulisannya. Pernah suatu saat, aku mendapat nilai yang sangat jelek, lalu aku merobek kertas itu, mengulangnya, meniru tanda tangan guruku, dan mengganti nilainya *sigh*. Sejak kecil, aku sangat takut gagal, aku takut mengecewakan orang lain, aku selalu dituntut untuk bisa, untuk mau, walau sebenarnya tak suka.

Dulu, aku tak punya pilihan. Setiap pakaian, gaya rambut, tindak-tandukku semua adalah pilihan orang tua. Yah, tentu saja aku ingin membahagiakan mereka. Tapi aku selalu masuk ke sekolah yang tak pernah kuinginkan. Supaya dekat, selalu bisa diantar jemput sampai kelas tiga SMA –sampai kuliah sebelum di STAN tepatnya-, supaya aman. Dulu aku sangat tak mandiri, penakut, suka nangis, benar-benar childish. Sangat jarang diizinkan jalan-jalan bersama sahabat, tak pernah merealisasikan cinta monyet, dan selalu mengenakan seragam kegedean – sooo not today. Hehe, masa puber penuh pemberontakan yang indah. Tetapi entahlah, kenapa aku diharuskan masuk STAN, benar-benar bukan pilihan saat itu dan sangat bertentangan dengan cita-citaku yang ingin menjadi astronom, graphic designer, atau insinyur *sigh*

Tapi, itulah hidup, masa kecil memang komposisi utama adonanku saat ini. Dan waktu adalah mixernya. Waktu mengajarkanku untuk menentukan jati diri, membangun perisai jiwa, dan memilih jalan hidup. Kini, aku bisa mengikis perfeksionisme diri, bisa bersosialisasi dengan baik, bisa lebih banyak bersyukur, bisa menjadi sangat tangguh dan tak suka menangis, bisa lebih menerima, bisa membangun komunikasi yang positif dengan orang tua tanpa rahasia, dan bisa memilih apa yang kumau. Kini aku tahu, aku bukanlah aku, jika aku tidak diproteksi dengan baik saat itu. Toh, semua ada waktunya. Aku tak pernah menyesal, tak pernah merasa kehilangan masa remaja, tak pernah. Karena orang tuaku sungguh memberikanku kebebasan tepat pada waktunya.

Terima kasih buat STAN, aku memang ditakdirkan kesini untuk menjemput banyak hal. Menjemput masa depan yang lebih baik, menjemput diriku yang baru, menjemput cinta, menjemput silaturahmi, dan menjemput pahala – insya Allah. Aku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada kampus ini. Kampus yang mengajarkanku tentang makna kesederhanaan dan filosofi hidup yang sangat berharga. Kini aku sadar, pilihan orang tua memang tak salah, dan pada akhirnya kita mengerti bahwa yang mereka inginkan adalah yang terbaik untuk kita. Dan aku bersyukur punya orang tua yang menjunjung tinggi emansipasi wanita, menjunjung tinggi pendidikan, dan mencintai kesederhanaan :)



Aku kangen masa kecilku,
Aku kangen saat-saat makan bersama di satu meja,
Aku kangen saat diantar jemput abah dengan sepeda motor tua,
Aku kangen seragamku yang selalu kebesaran,
Aku kangen melukis dan membaca berbundel-bundel majalah Donal Bebek,
Aku kangen mendengar musik rock sambil duduk melingkar di antara ratusan resistor,
Aku kangen memelihara kura-kura dan kelinci lagi,
Aku kangen makan bekal buatan mama.
.
Thanks for the memory.
Sungguh, aku sangat bersyukur.
Masa kecil memang takkan terganti :’).

2 comments:

wijiraharjo said...

masa kecil yang indah..keep it up..tetep semangat cha, paling suka kata: "masa kecil adonan, dan waktu adalah mixernya" its happen to me..two thumbsup

creamy_cha said...

yup, thanx ya wiji :')
life teaches us, surely