May 27, 2010

Sekilas tentang Gunting Syafrudin dan Sanering di Indonesia

Dari wacana tentang adanya redenominasi, saya jadi tertarik untuk melihat sejarah dan perkembangan Rupiah di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan sanering. Yuk, kita ikuti ulasan singkatnya.

Gunting Sjafruddin adalah kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Syafruddin Prawiranegara (foto), Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta II, yang mulai berlaku pada jam 20.00 tanggal 10 Maret 1950.

Menurut kebijakan itu, "uang merah" (uang NICA) dan uang De Javasche Bank dari pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua. Guntingan kiri tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai setengah dari nilai semula sampai tanggal 9 Agustus pukul 18.00. Mulai 22 Maret sampai 16 April, bagian kiri itu harus ditukarkan dengan uang kertas baru di bank dan tempat-tempat yang telah ditunjuk. Lebih dari tanggal tersebut, maka bagian kiri itu tidak berlaku lagi. Guntingan kanan dinyatakan tidak berlaku, tetapi dapat ditukar dengan obligasi negara sebesar setengah dari nilai semula, dan akan dibayar empat puluh tahun kemudian dengan bunga 3% setahun. "Gunting Sjafruddin" itu juga berlaku bagi simpanan di bank. Pecahan Rp 2,50 ke bawah tidak mengalami pengguntingan, demikian pula uang ORI (Oeang Republik Indonesia).

Kebijakan ini dibuat untuk mengatasi situasi ekonomi Indonesia yang saat itu sedang terpuruk--utang menumpuk, inflasi tinggi, dan harga melambung. Dengan kebijaksanaan yang kontroversial itu, Sjafruddin bermaksud sekali pukul menembak beberapa sasaran: penggantian mata uang yang bermacam-macam dengan mata uang baru, mengurangi jumlah uang yang beredar untuk menekan inflasi dan dengan demikian menurunkan harga barang, dan mengisi kas pemerintah dengan pinjaman wajib yang besarnya diperkirakan akan mencapai Rp 1,5 milyar.

19 Maret 1950 : Sanering pertama dikenal sebagai "Gunting Syafrudin" dimana uang kertas betul-betul digunting menjadi dua, yang sebelah kiri dipakai sebagai alat pembayar sah dengan nilai semula. Sebelah kanan dan juga deposito di Bank ditukar dengan obligasi negara yang akan dibayar 40 tahun kemudian dengan bunga 3 % setahun.


25 Agustus 1959 : Sanering kedua uang pecahan Rp 1000 (dijuluki Gajah) menjadi Rp 100, dan Rp 500 (dijuluki Macan) menjadi Rp 50. Deposito lebih dari Rp 25.000 dibekukan. 1 US $ = Rp 45.Setelah itu terus menerus terjadi penurunan nilai mata uang Rupiah sehingga akhirnya pada Bulan Desember 1965 1 US $ = Rp 35.000.

Wow!!!

13 Desember 1965 : Sanering ketiga terjadi penurunan drastis dari nilai Rp 1.000 (uang lama) menjadi Rp 1 (uang baru).


Sesudah itu tanpa henti terjadi depresiasi nilai mata uang Rupiah sehingga ketika terjadi Krisis Moneter di Asia ditahun 1997 nilai 1 US $ menjadi Rp. 5.500 dan puncaknya adalah mulai April 1998 sampai menjelang pernyataan lengsernya Presiden Suharto maka nilai 1 US $ menjadi berkisar Rp 17.200.

Lalu apakah kebijakan menggunting uang ini bakal terulang di Indonesia? Memang tak terjadi lagi sanering di Indonesia. Namun ada kekhawatiran akan terus terjadinya pengurangan nilai tukar rupiah secara perlahan tapi pasti. Lihat saja, harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Apalagi harga-harga dilepas mendekati harga pasar internasional sementara pendapatan masyarakat masih standar lokal.

Banyak pula yang menduga bahwa kebijakan BI yang mencetak uang pecahan Rp2.000 dan secara perlahan mengurangi lembaran Rp1.000 pada hakekatnya menyerupai kebijakan sanering. Tentu saja kasus ini bukan termasuk kategori pengguntingan uang. Apalagi inflasi saat ini masih terjaga.

Tetapi setidaknya hal ini memperlihatkan bahwa harga-harga sekarang sudah sedemikian tinggi. Dulu barang yang dijual di harga Rp1.000 tapi saat ini sudah naik dua kali lipat sehingga akan lebih mudah menggunakan pecahan Rp2.000. Artinya rakyat harus merogoh saku lebih dalam untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Tapi itu bukan berarti semua hanya diam. Perlu dilakukan peningkatan daya beli dan kesempatan berusaha agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dikutip dari berbagai sumber dengan perubahan*

9 comments:

Yoga Azmat Khan said...

my family sold their land in 1965... right before sanering. and their money by then wasn't worth anymore, hehe.
I hope we don't need to repeat it.

creamy_cha said...

oh gitu ya?
nilai uang memang jadi sangat rendah, dan berdampak pada hyperinflasi yang parah
waah, thanks ya infonya yog...
boleh dibagi2 tuh di blognya :)

Yoga Azmat Khan said...

hehe, bakal jadi cerita yang panjang. keluarga kami pindah karena kakekku musuh PKI ^_^'.
sepertinya lebih baik untuk kenangan pribadi. kisah itu bukanlah kisah yang indah...

creamy_cha said...

oh, maaf T.T
maksud cha cuma kilasan dampak saneringnya utk pelajaran bersama,
hal2 pribadi memang harus disimpan sendiri... :)

Yoga Azmat Khan said...

no, it's OK... :).
dampaknya itu yang berat, hehe.
it affected my family for 2 decades...

setyana dwi basuki said...

wahh,,menarik,,
saya juga bwt postingan ttg redenominasi dan sanering
nice posting

nitip lapak
bosenovic7.blogspot.com

Wahyu Alfiansyah said...

Pernah liat juga profil Guting di wikipedia, idenya lumayan menarik seperti namanya ^^

uang Rp. 1 modelnya jadul ya? lebih bagusan uang monopoli.. tapi gpp kan masih tahap perkembangan, nice post ^^

Anonymous said...

Itu bukan uang 1 rupiah tahun 1965... Itu uang daerah , entah daerah mana yang dicetak 1947... tahun 1964 dicetak uang 1 rupiah gambae bungkarno warnany merah.

Anonymous said...

Itu uang ORI daerah Bengkulen, Sumatera tahun 1947.