May 27, 2010

Suka Duka Menjadi Guru Privat ;)

Jadi mahasiswa kos-kosan yang jauh dari orang tua harus punya berbagai trik untuk bisa memperoleh penghasilan tambahan. Selain bisa menyelamatkan diri dari krisis dan defisit yang berdampak sistemik di akhir bulan (hiks), membantu mengurangi beban orang tua, kita juga bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan dengan uang sendiri. Banyak mahasiswa yang melakukan part-time job, wirausaha, dan yang paling sederhana adalah jualan ilmu – alias jadi guru privat! ;)

Masuk STAN bukan berarti harus berkhianat ataupun ‘say goodbye’ dengan Fisika, Biologi, dan rumus-rumus Matematika. Walaupun otak kita diasah dengan berbagai disiplin ilmu mengenai keuangan negara, tetapi tetap aja hapalan yang dilatih dari kecil tidak akan terlupakan begitu saja. Ilmu ini bisa dijual dan diwariskan kepada yang membutuhkan – dan sebagai profitnya bisa memperoleh penghasilan tambahan yang lumayan! Hoho *green eyes*. Jadi jangan malas untuk belajar dan menghapal di waktu kecil karena akan terus tertanam dalam ingatan dan rasakan manfaatnya di masa depan.

Keputusan saya untuk menjadi guru privat terlintas kira-kira satu bulan sejak pertama kalinya menduduki bangku kuliah di prodip tiga Kebendaharaan Negara STAN. Tak pernah terbayangkan kalau saya bisa mengajar. Dan yang bikin saya bangga adalah saya – seorang kelahiran Medan – harus mengajar anak-anak Jakarta. Hehe. Saat itu saya masih bergabung dalam sebuah lembaga pengajar dan mereka yang mencarikan murid untuk saya. Murid saya yang pertama bernama Amanda Gabriella - seorang siswi cantik kelas tiga SMP Negeri 19 Jakarta- dan sampai saat ini dia dan adiknya masih menjadi murid saya. Kini dia sudah duduk di kelas dua SMA Negeri 70 Jakarta.

Pengalaman pertama mengajar sungguh bikin gugup dan deg-degan. Modal saya hanya beberapa buku pelajaran yang saya bawa dari rumah (tak disangka ternyata berguna, hehe). Hal yang pertama sekali harus saya lakukan adalah mengambil hati murid saya, mulai dari mengajaknya berkenalan, banyak senyum, dan sabar – itu yang paling penting! Setelah itu, insya Allah semuanya jadi lancar.


*beberapa modal saya kalau ngajar :)*

Selama hampir tiga tahun, saya sudah mengajar banyak murid. Mulai dari yang masih kelas 2 SD dan terus-terusan minta digendong, SMP yang lagi puber-pubernya, dan SMA yang super-duper kritis. Hampir satu tahun saya bergabung dalam lembaga pengajar dan sempat mengajar sebagai tentor bahasa Inggris USM STAN – tetapi karena berbagai pertimbangan – saya memilih berdikari dan memutuskan untuk melanjutkan karier saya secara mandiri. Hehe.

Jadi guru privat, ada banyak sukanya, ada pula banyak dukanya. Saat-saat yang paling membahagiakan adalah saat gajiaaaan! Rasanya semua kerja keras terbayarkan dan sangat manis. Bahkan saya sempat menangis saat menerima gaji pertama. Setelah gajian, hal yang pertama kali saya lakukan adalah beli makanan yang enak, beli berbagai kebutuhan, beli buku, dan beli berbagai aset – modem, handphone, karpet – alhamdulillah, sedikit demi sedikit bisa terbeli. Tak ada salahnya pula jika sedikit berbagi dengan sahabat, dengan sepupu kecil, dengan anak-anak kosan, dan dengan orang tua di rumah. Walau sedikit, yang penting berkah :)

Hal menyenangkan yang lain adalah saat orang tua murid sudah menyayangi kita, terkadang dikasih cemilan, ditraktir, dibeliin hadiah, dan diajak curhat. Suatu penghargaan yang sangat besar untuk saya. Hal itulah yang terus membuat saya betah dan menjadi bonus kebahagiaan untuk seorang guru privat. Hehe.

Kalau kita bicara duka – mungkin – yang paling bikin frustrasi adalah saya suka nyasar, apalagi kalau pertama kali datang ke rumah si murid. Saya paling sedih kalau kehujanan, banjir, jalanan yang saya lalui berlumpur, sehingga saya terlihat sangat kumal. Syukurlah, murid-murid saya yang terlihat sangat ‘wah’ untuk saya – dan kadang bikin minder – sangat memaklumi saya.

Menjadi guru privat berarti belajar untuk berdedikasi. Berdedikasi pada ilmu. Berdedikasi pada waktu. Sebelum mengajar, biasanya saya belajar dulu, mempersiapkan soal, agar saya tidak blank – walaupun kadang suka nekat – dan bisa menjawab pertanyaan murid-murid saya. Juga harus punya komitmen terhadap amanah. Di saat ujian sekalipun, di saat kita lelah karena kuliah full sampai sore, di saat mereka membutuhkan kita, kita harus bersedia meluangkan sedikit waktu belajar atau istirahat kita untuk membimbing mereka. Dan saat mengetahui mereka lulus dengan baik, dapat nilai yang memuaskan, dan mengerti, adalah suatu kebanggaan yang luar biasa untuk saya.

Sampai saat ini saya bersyukur memiliki murid-murid yang telah memberikan kepercayaannya kepada saya, dan menjadikan saya sebagai bagian dari keluarga, sebagai kakak, sebagai teman. Sungguh anugerah yang luar biasa - sebuah pengalaman yang mengajarkan saya asam garam kehidupan, menjadi tangguh, menikmati manisnya kerja keras, dan indahnya perjuangan.

Kini - di semester terakhir prodip 3 -menuju saat-saat terakhir kuliah, saya masih punya satu murid yang saya bimbing. Dia adalah seorang siswi kelas 5 SD yang chubby dan cerdas, pencinta Doraemon, dan mie goreng. Setelah ini, saya akan memutuskan untuk fokus pada PKL, pada laporan, dan persiapan kelulusan. Dan pastinya, ini akan menjadi gaji terakhir saya yang sangat berharga ;)

No comments: