May 30, 2010

Toyoko dan Nasibmu Kini

Kota Medan memang penuh dengan keunikan. Tidak hanya dari ragam budaya dan pluralitasnya, Medan juga memiliki beraneka alat transportasi umum yang unik. Sebut saja di antaranya becak motor, becak dayung, berbagai jenis motor (angkot/sudako), dan toyoko yang populasinya bisa dihitung dengan jari. Oh ya, sebelumnya jangan terkecoh, jika di Medan kita menyebut kata 'motor' maka akan mengacu pada 'angkot/mobil' dan jika kita menyebut kata 'kereta' berarti maksudnya adalah 'sepeda motor'. hehehe :P

Back to topic, Toyoko, entah kenapa saya ingin membahas kendaraan tua ini. Hehe, mungkin karena sedang kangen rumah dan teringat dengan kenangan jalan-jalan yang pernah saya lakukan di Medan. Waktu saya kecil, belasan tahun yang lalu, jumlah toyoko masih cukup banyak. Kita bisa melihat kotak-kotak kuning lalu lalang di sepanjang jalan-jalan besar. Tapi kini, toyoko sudah punah, digantikan oleh zaman, oleh berbagai angkutan umum lain yang lebih nyaman dan ramah lingkungan. Namun, bagiku, tetap saja keberadaannya dirindukan...

Toyoko - Penampilannya hampir mirip dengan Bajaj, bukan hanya dari bentuk, tetapi juga dari polusi dan kebisingan yang dihasilkannya. Hehe. Bedanya, jika Bajaj berasal dari India, maka Toyoko berasal dari Jepang. Mesin Toyoko dibuat di Jepang, dengan ukuran 100 – 165 cc, tetapi perakitan selanjutnya dilakukan di tanah air.

Toyoko meramaikan jalan-jalan di kota Medan dimulai pada tahun 1990-an. Saat itu, Toyoko digunakan sebagai angkutan yang dapat menggantikan peran becak dayung untuk menempuh jalan-jalan besar yang memang hanya dapat dilalui kendaraan bermotor. Toyoko tidak hanya ada di Medan, bahkan juga ada di beberapa kota, seperti Jakarta. Dan tujuan penyediaannya juga sama.

Bagaimana kesan naik Toyoko? Hehe, mungkin hampir mirip seperti saat naik Bajaj pada umumnya. Kita tetap akan merasakan nikmatnya goyang-goyang sepanjang perjalanan, suara mesin yang berisik sehingga tidak memungkinkan untuk mengobrol, body yang lumayan sempit seperti berada di dalam kotak, dan terkadang saya juga merasa harap-harap cemas karena mulai dari pintu, mesin, dan body Toyokonya sudah sangat tipis, ringkih, dan berkarat.

Toyoko memang kurang layak untuk dijadikan angkutan umum karena asap dan kebisingan yang ditimbulkannya sangat mendukung peningkatan polusi. Oleh karena itu, keberadaannya mulai tergeser oleh kehadiran becak motor yang jauh lebih nyaman dan ramah lingkungan.

Walaupun demikian, tidak ada salahnya untuk mengapresiasi keberadaan Toyoko sebagai angkutan yang pernah mengisi dinamika kota Medan. Banyak pengemudi Toyoko yang tetap mencintai pekerjaannya, Toyoko tuanya, dan masih mangkal di beberapa kawasan. Beberapa masyarakat juga masih setia dan memilih naik Toyoko yang sudah sangat langka ini.

Memang, faktanya, sensasi histeria, seru, dan berisiknya naik Toyoko tak akan tergantikan dengan keberadaan angkutan yang lain. So much fun (and smoke)!!!

1 comment:

pradipta nindyan said...

Mksh banyak buat infonya, kbetulan sy baru dapet mesin merek toyoco, awalnya bingung ini mesin apa, tp setelah baca artikel ini, terjawab sudah :)
Nice post