June 8, 2010

Celoteh di Malam Hari: Mau Mengalir Kemana Darah APBN Negeri Ini?

APBN bisa dianalogikan sebagai jantung yang membawa darah untuk kehidupan seluruh rakyat Indonesia. Bisa dibayangkan uang negara yang berkisar 1000 Trilyun harus memberi makan 200an juta bangsa ini. Dengan penerimaan pajak sebagai sumber utama pendapatan, dan non pajak yang kurang bisa dieksplor dengan baik, anggaran kita selalu defisit, walaupun anehnya selalu surplus atau menghasilkan SILPA di akhir tahun anggaran - yah, karena belanja yang tidak efektif dan sering adanya penggelembungan di sana-sini saat tahap perencanaan oleh tiap satuan kerja.

Deficit budget,dan hanya orang tak paham yang bisa beranggapan bahwa saat ini kita bisa bertahan tanpa utang. Surat Utang Negara yang notabene sebagai pinjaman dalam negeri tidaklah selalu efisien dalam hal bunga, risiko, dan sering mengakibatkan crowding-effect. Dan sumber pembiayaan non utang tidak selalu tersedia dan bisa menyelamatkan defisit dalam jangka panjang. Yah, walaupun pada akhirnya tahun 2010 telah menjadi titik puncak jatuh temponya pembayaran utang dari masa Orde Baru, dan suatu hal yang sangat memalukan jika kita meminta rescheduling kepada beberapa lender, pada akhirnya kita harus menyediakan pembiayaan lewat utang lagi, setidaknya utang dalam negeri.

Sayang seribu sayang, pejabat-pejabat terhormat yang sedang duduk di kursi DPR seakan tak paham tentang konsepsi keuangan negara. Mulai dari kesalahpahaman persepsi bail out Century, hingga otoritas yang luar biasa terhadap anggaran negara. Di saat kita menjerit harus membayar bunga utang, harus memberi subsidi terhadap petani dan rakyat kecil, ada saja permintaan dari legislatif mulai dari perbaikan gedung miring DPR hingga dana aspirasi. Seandainya saja tidak ada motif politis di kursi panas dan empuk di sana. Terlalu banyak partai di negara ini, menurut saya. Konsekuensinya, APBN harus mendanai kepentingan politis mereka. Malang oh sungguh malang.

Saya masih ingat saat beberapa anggota DPR memboikot pertemuan dengan Menteri Keuangan saat itu - Sri Mulyani untuk membahas RAPBN-P 2010. Kenapa tidak bersikap profesional? Tapi saat membutuhkan guyuran dana untuk perbaikan bangunan miring, begitu gesitnya mengajukan menjadi bagian dari belanja di APBN-P 2010. Pertanyaan ini bahkan sempat saya ajukan di kelas karena saking tidak habis pikirnya.

Dan lagi, saat kita harus bersusah payah menorehkan angka-angka untuk RAPBN 2011, mereka, pejabat kita yang terhormat meneriakkan Dana Aspirasi dengan kata kunci utama 'demi rakyat'. Padahal, menurut beberapa pengamat, dana itu sangat tidak efektif karena tidak akan tepat sasaran hingga ke daerah dan bertentangan dengan UU 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Ironisnya, di satu sisi, BLT akan direncanakan dihapuskan di tahun 2011. Kadang saya berpikir, apakah DPR itu paham tentang siklus anggaran yang ada di Lampiran PP Nomor 21 Tahun 2004 atau sederhananya, pahamkah definisi Keuangan Negara? Karena faktanya, Pancasila saja tidak hapal, dan arti hak interpolasi saja tidak tahu ==

Semoga saja APBN kita - jantung negara ini tidak kehabisan darah karena dihisap dengan rakus oleh pihak-pihak tertentu saja...

*sebuah opini pribadi mahasiswi Kebendaharaan Negara STAN yang prihatin dengan kondisi negeri ini

No comments: