June 22, 2010

Cerita Sebuah Galau

Langit malam ini cerah. Tetapi sayangnya tidak demikian dengan perasaanku. Karena memang tidak ada korelasi positif yang absolut antara cuaca dan suasana hati manusia.

Sepanjang hari aku terus memikirkan dua kata. Dua kata dengan inisial huruf yang saling berurutan. Aku sudah tahu sejak hatiku tak tenang seperti telah merasa. Dan dua botol air yang tumpah di karpet semakin memberikan kesan bahwa ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang tidak baik-baik saja.

Pikiranku mengawang-awang. Tiga buah goresan pena yang berbentuk kecambah itu benar-benar menentukan hidupku. Sepele, memang, tapi signifikan.

***

Dan, malam ini, kulihat bulan yang memang sedemikian terang. Dengan tepukan bahu yang menguatkan dan kalimat-kalimat positif yang menenangkan, aku bisa kembali berseri-seri dan bahkan menertawakan apa yang terjadi hari ini.

Saat pikiran kita dikuasai oleh sebuah opini dan sugesti, sediakanlah ruang untuk logika yang membantu kita berpikir sebaliknya. Kali ini aku mempercayakan hatiku, tak apa, Allah sedang mengajar kita untuk sabar. Dan aku mengambil jalan yang tak mudah, tapi menjadi sederhana karena ada orang-orang yang mau membagi dukanya bersama.

“Man jadda wa jadda”. Setiap orang akan menuai apa yang dia tanam. Dan, kerja keras tidaklah cukup tanpa rahmat Allah. Maka, berpikiran positiflah padaNya. Karena Dia sungguh sayang kita. Tak ada keraguan.

"Tuliskan rencanamu dengan pensil, tapi berikan penghapusnya kepada Allah. Izinkan Dia menghapus bagian-bagian yang salah, dan menggantinya dengan rencanaNya yang lebih indah".

Selalu ada hikmah di balik semua peristiwa. Yang pasti, yang terlewati haruslah mendewasakanku. Masih ada hari esok yang harus diperjuangkan. Dan aku yakin, aku tak akan pernah sendirian.

Maka kututup lembar kesedihan ini dengan harapan.
Senyum.
Tawakkal.

Benar saja, apel yang kugigit malam ini terasa lebih nikmat.

No comments: