June 17, 2010

Road to Gadog

Yeah, memang perjalanan memperjuangkan outline yang penuh petualangan!


Dua hari yang penuh tantangan, suka, duka, dan kelucuan bersama. Dari awal, bimbingan di tempat bernama Gadog adalah yang paling dihindari karena memang medannya sangat berliku dan perjuangannya membutuhkan persiapan fisik dan mental yang lebih. Dan kami, SUPER TEAM – saya, doni, deasy, bagus, adit, cosmas – adalah kelompok PHLNers dengan dosen pembimbing yang memang harus melakukan konsultasi di kantor beliau, yakni Pusdiklat Anggaran tersebut, karena beliau memang tidak sedang mengajar di STAN. And, here we go!!!

Pertemuan pertama, Senin, 14 Juni 2010.


Kami berangkat pukul 10 pagi, naik motor, dengan membawa peralatan perang lengkap: laptop, printer, dan modem. Setidaknya, sedia payung sebelum hujan memang lebih baik. Di antara kami, belum pernah ada yang ke sana. Dengan beberapa petunjuk dari sms teman dan insting, kami pun menempuh perjalanan. Lewat TB Simatupang, terus ajaa, eh tiba-tiba udah sampai Depok, Jalan Raya Bogor, dan Ciawi, trus cari deh Pusdiklat Anggaran. Kami menempuh rute tersebut selama kira-kira 2.5 jam, dan selama itu pula saya mati rasa karena harus duduk menyamping di motor dengan kaki pegel-pegel, tampang sangat mengenaskan dan mata sayup.

Pusdiklat Anggaran sangat bagus. Tamannya indah, berbukit-bukit, dan kami menemui banyak dosen yang pernah mengajar kami dulu. Dosen Anggaran memang keren-keren *zink-zink*. Hehe, termasuk dosen pembimbing saya, Rasida, S.E. Pada awalnya, kami sangat harap-harap cemas karena beliau adalah dosbing yang sangat kritis dan teliti. Saya mendapat giliran paling awal, dan setiap orang mendapat alokasi waktu diskusi dengan beliau selama 15 – 30 menit. Selama outline saya diperiksa, kata per kata, saya berusaha mempertahankan beberapa argumen, dan menggumamkan doa-doa dan kata-kata penyemangat untuk diri sendiri - tiba-tiba, saya teringat bahwa ini seperti yang dilakukan Hermione saat akan menghadapi sorting Hat :(

Harus diakui, menurut kami, beliau adalah dosen pembimbing terbaik. Karena, beliau memang sangat ahli dalam bidang tersebut, memperhatikan setiap kata dan ketidaksesuaian dalam outline kami, memberi arah yang jelas terhadap judul yang akan kami telaah, dan memberi point-point untuk direvisi. Menurut kami, tak apa untuk berjuang lebih keras di awal, jika akhirnya akan lebih mudah saat pengujian dan penilaian di akhir. ^^

Hari pertama konsultasi memang cukup melelahkan. Faktor utamanya untuk saya adalah karena saya duduk menyamping, dan dilanda ngantuk akut – bisa-bisanya saya mencuri-curi kesempatan untuk menutup mata satu atau dua detik padahal resiko jatuh dari motor bisa saja terjadi karena teman saya ngebut dahsyat. Kami baru tiba di kos sekitar pukul 8 malam, dan rasanya tubuh benar-benar rontok. Uwooo.

Pertemuan kedua, Rabu, 16 Juni 2010.

Kami harus berangkat lebih pagi. Langit sedang mendung. Saya sangat mengantuk karena tidak tidur sama sekali pada malam harinya. Dan, semut-semut merah yang menyebalkan memenuhi jilbab saya di tumpukan pakaian yang mau disetrika. Mengerikaaaan. Semut-semut ini membawa bad mood di pagi hari, karena selalu memenuhi handuk, bersembunyi di sela-sela kasur, mukenah, dan merusak T-shirt di lemariiii. Eaaaaa. Kulit jadi perih dan merah-merah juga deh. Hufffh.

Ternyata bad mood saya sedang diuji. Teman saya telat lamaaaa banget, dan sepertinya dia tertidur lagi. Saya selalu khawatir dengan keadaannya karena dia memang punya masalah dengan jam biologis tidur. Hufffh, syukurlah hanya telat 30 menit, tapi tetap saja itu telat. ==

Kali ini tidak duduk nyamping lagi, tapi hambatan utamanya adalah HUJAAAAN. Selama 5 jam akumulasi perjalanan pulang-pergi, kami menembus hujan yang membuat kami sangat-sangat-sangat kedinginan. Freezing, brrrrrr. Syukurlah kami bisa bertahan. Walaupun pada akhirnya saya diserang sakit kepala dan menggigil kedinginan setelah tiba di kosan. Tapi tidak demam, padahal kayaknya seru kalau bisa demam. Hehe *syndrom karena jarang sakit*

Ternyata bimbingan hari kedua hanya berakhir pada pengumpulan semua revisi outline dan bab 1, tanpa ada konsultasi pribadi lagi, karena kesibukan beliau juga. Syukurlah, karena udara dingin membuat berbicara dengan lancar menjadi cukup sulit dan baju kami masih sangat basah. Lapaaar. Kami duduk nonton TV di meja pertemuan sambil saling berbagi roti, cemilan, dan kue-kue lalu makan dengan lahaaap. Oh, so sweeeeet. Beberapa dosen bahkan tersenyum diam-diam melihat mahasiswanya terlihat begitu mengenaskan, hehe.

Dari pengalaman pribadi di atas, saya merangkum beberapa tips yang sebaiknya dipersiapkan sebelum bimbingan menuju Gadog:

1. Persiapkan semua peralatan perang dengan baik: outline, printer, laptop, modem, kertas, map, klip, dsb. Saat terdesak dan membutuhkan print-out, kita bisa langsung mencetak tanpa perlu bolak-balik Gadog-kampus. Dan tempat yang paling tepat untuk curi-curi ngeprint adalah di musholla. Nyaman, tidak mengganggu, dan semua pegawai sudah maklum, hehe.

2. Jangan coba-coba duduk nyamping naik motor untuk perjalanan jauh, karena sangat tidak baik untuk kesehatan.

3. Perbanyak routing slip, karena bisa saja terjadi perbedaan judul setelah revisi. Routing slip tidak boleh ada coretan atau tip-ex.

4. Sedia cemilan, perjalanan jauh akan membuat kita lapar. Jangan harap bisa makan siang di sana. Kendala utamanya: mahal!

5. Persiapkan jas hujan dan jaket tebal. Bogor memang terkenal sebagai kota hujan. Dan, udara bisa jadi sangaaat dingin.

6. Wajah innocent itu diperlukan – sungguh, hehe.

Seperti yang selalu saya lampirkan di curhat of the day saya, pelajaran apa yang saya dapat hari ini?

Film Prince of Persia yang saya tonton di malam sebelumnya SANGAT BAGUS, and we have no idea about what someone’s gonna do for us – it’s true, it’s definitely true.

Dan saya bisa membedakan bau matahari dan bau hujan. Euuuh, ternyata bau hujan jauh lebih tidak mengenakkan ==

Yang paling penting, bahwa, kita selalu membutuhkan orang lain. Jadi bersikap baiklah. Dan, bantuan itu mungkin bisa datang dari orang yang tak terduga. Thanks to Cosmas – teman seperjuangan yang selalu bikin saya harap-harap cemas karena syndrom telatnya – telah membantu mengantarkan saya pulang-pergi Gadog selama dua hari, dan masih menyimpan routing slip yang kosong untuk saya. Wowww. Thank you ^^

May I sing my sountrack of the day? I sang it through the drops of rain, visualized it, and got warmth!

Sometimes in our lives
We all have pain
We all have sorrow
But if we are wise
We know that there's always tomorrow

Lean on me!
When you're not strong
And I'll be your friend
I'll help you carry on
For it won't be long
'Till I'm gonna need
Somebody to lean on

(Lean on Me – glee cast)

5 comments:

Muhammad said...

gak tau lagi harus bilang apa...

pokoknya saya mengagumi dan menikamti tulisan2 di blog kamu...

bener2 jauh lebih menarik dari Komik Naruto...hehe

keep posting ya ntetap SEMANGAT YA!!!!!!!

Yoga Azmat Khan said...

if you have the idea, that's not a surprise anymore ;).

thanks for wonderful night with funny scream and screak :p.

pake kapur barus aja Cha...

deadyrizky said...

yang pasang wajah innocent keknya patut dicoba tuh. Hehehe

creamy_cha said...

@muhammad: trmksh sudah mw mampir ^^
*selalu terharu klw ada yg baca blog*
icha hny menceritakan apa yg icha pikirkan dan icha rasa... bercerita dgn sederhana dan jujur...

iya, smg bs konsisten ;)

@yoga: thanks yoga ^^
iyaa, semutnya nakal...

@deady: hoho, iyaa beneran, it works! :)

fulcrums said...

aku yakin tiap yg bikin otlen punya cerita "ajaib" masing-masing :D