June 19, 2010

You (don’t) say it best, when you say nothing at all

Salah satu perubahan terbesar dalam diri saya adalah saya bisa semakin sayang dengan keluarga. Saat ini saya tak lagi segan untuk mengungkapkan rasa sayang itu. Sebagai anak kos-kosan yang jauh dari keluarga, menerima telpon dari orang tua, atau mendapat kunjungan dari saudara adalah hal yang luar biasa dan selalu dinanti-nantikan ^^

Dulu – saat masih menggunakan provider pascabayar – pulsa adalah satu-satunya hal yang tidak bisa saya hemat. Saya bisa mengirim puluhan sms per hari, bahkan untuk waktu-waktu tertentu bisa lebih dari seratus. Saya senang menyapa sahabat, keluarga, untuk sekedar menanyakan kabar, ngobrol, diskusi, curhat, dan menyatakan bahwa saya mengingat mereka. That’s why sometimes I don’t agree with Ronan Keating’s song, hehe. You (don’t) say it best, when you say nothing at all.

Kemarin, saya sedang kecanduan mengirimkan sms ke orang-orang terdekat. Salah satunya, kakek saya yang tinggal di Medan. Kakek saya memang sosok pria yang tidak suka berkata-kata, cuek, tapi dalam hatinya saya tahu bahwa dia cukup peduli. Prince William yang ada di pangkuan saya ini adalah salah satu hadiah terindah darinya. Sudah sangat lama saya tidak menerima kabarnya, lalu saya kirim sms hingga mencapai 400 karakter dengan menceritakan kegiatan saya, sebentar lagi akan PKL, dan bagian yang paling saya suka adalah, “…mohon doanya ya Jid, smoga Allah juga selalu menjaga Jid”. Tambahin smiley deh… hohoho

Tidak beberapa lama, sms saya yang sangat panjaaaang itu hanya dibalas dengan tiga kata. Tiga kata. TIGA KATA *karena biasanya hanya satu kata, “iya, tq, ok, atau alhamdulillah”*. Tiga kata yang bikin saya mengharu biruuuu, “Amin. Semoga berhasil”

Uwoooo.

Selanjutnya, saya mengirimkan beberapa sms lagi untuk dua tante saya tercinta dengan kata-kata mujarab, “Apa kabar halaku sayaaang?” dan diakhiri dengan kata-kata, “Love you always”. Jangan lupa pakai smiley… hihihi

Sungguh, balasannya juga sangat so sweet, “kabar baik keponakanku tercinta”, dan juga diakhiri dengan kata, “kita semua bangga dan selalu sayang icha”. Sumpaaah, bisa bikin saya nangis.

Dan juga untuk mama dan abah, harus yang paling romantis dan lebay. Hehe. Walaupun, mama dan abah tidak suka membalas sms, tapi saya tahu di dalam hati mereka, mereka juga mengungkapkan hal yang sama dan kalimat-kalimat cinta seperti ini akan membuat ikatan dan chemistry antara orang tua dan anak semakin erat.

“Mammmaaaah”, atau kadang-kadang “mommy, daddy, mohon doanya. Love yaaa *hugshugs*”. Biasanya mereka tidak membalas dan akan langsung menelpon, jika membalas pun biasanya setelah adik pulang ke rumah – karena orang tua biasanya ribet kalau disuruh ngetik sms. Hehe. Walaupun dibalas tanpa kata-kata lebay atau tanpa titik-koma yang jelas, tapi sungguh, saya sangat bahagia. Satu sms terindah dari mama-abah yang masih saya ingat dan saya terima kira-kira setahun yang lalu adalah saat mereka memanggil saya dengan kalimat “ananda yang paling mama dan abah cintai…”. Masya Allah :)

Bahkan dengan sahabat-sahabat terdekat pun sungguh menyenangkan rasanya jika saya bisa memanggil dengan sebutan sizta, dear, sweetheart, lovely, buddy, dan sebagainya. Sering memperhatikan film atau novel-novel Barat? kita akan melihat bahwa mengucapkan kata-kata sayang, “I love you” kepada orang tua dan sahabat adalah sesuatu yang dibudayakan.

Dengan mengucapkan hal-hal indah, doa, motivasi, semangat, ucapan selamat di hari ulang tahun mereka, di saat-saat mereka bahagia, ataupun berduka bisa menjadi media yang paling sederhana untuk mempererat silaturahmi, menambah bumbu dalam persahabatan, mencapai cinta antar sesama yang diridhaiNya, dan membuat orang-orang di sekitar kita merasa berharga. Terutama kepada orang tua, selalulah berkata-kata yang santun dan baik. Sungguh, saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

Dan, dampaknya, kita akan semakin disayang! :)

1 comment:

Yoga Azmat Khan said...

Prince of Pertamax!

Please call me "Yoyo", OK? for me, that's a term of endearment :).