July 11, 2010

Maaf, Saya Minderan

“Everybody has ever trapped in a condition when he/she is just an ugly duckling” – me

Aku memang minderan.

Tapi, syukurlah, tidak separah dulu. Waktu telah membimbingku. Dan, Mama adalah pahlawan terbesarku yang selalu bisa membuatku percaya bahwa itu tak perlu. Aku tidak minder dengan orang-orang yang memamerkan blackberry, laptop, atau mobil baru mereka. Aku juga tidak minder dengan orang-orang hebat yang bisa kuliah di universitas populer atau bisa jalan-jalan keliling Eropa.

Jika muncul rasa – itu bukan minder – itu motivasi. Aku yakin suatu saat aku juga bisa meraihnya.

Aku bisa sangat minder pada hal sederhana – sebenarnya.

Aku benci terperangkap pada keadaan duduk di pojok ruangan memandang mereka dengan segenap keanggunan dan kemewahan. Tertawa. Bicara – sementara aku hanya dianggap seonggok bayang-bayang. Di sebuah keadaan yang seharusnya membuatku aman dan nyaman.

Muncul rasa – itu minder. Karena aku tak dapat meraihnya.

Dan aku pun beralih ke dunia maya, karena yang nyata tak selalu ramah.

Dan aku berlari pada Mama.

“Jika engkau minder mama ikut sedih. Bersyukurlah. Engkau sudah cukup istimewa, nak…”

Maaf…

“Tak apa. Lihat saja apa yang terjadi beberapa tahun ke depan, sayang. Berjuang yah…”

Tentu saja, aku akan berusaha. Karena tak dianggap itu menyedihkan.

Dalam hati, aku bersyukur berada di sini. Di kampus ini, duniaku, rumahku. Tempat dimana aku bertemu orang-orang yang tidak memandangku dari status dan materi…

No comments: