July 11, 2010

Terima Kasih Telah Mendengar

Jumat, di sebuah ruangan kecil yang sangat dingin. Aku menggigil dan mencoba menggerak-gerakkan kaki untuk memperoleh rasa hangat.

“Ceritakan apa saja pengalaman kalian selama 10 hari PKL” ujar beliau.

Teman-temanku bergantian memaparkan apa yang mereka rasa dan hal-hal baru yang mereka peroleh. Sepertinya rasa kesal karena beliau menyepelekan ide-ide kami dan memberikan kuliah mendadak di ruangan yang sangat beku ini beberapa hari yang lalu telah sirna. Yah, saya tahu, kami kini tahu. Beliau sebenarnya sangat baik.

Hmmm, mulai hangat. Pikiran positif memang memberi rasa hangat.

Kini giliranku – giliran terakhir.

“Suasananya sangat friendly dan…”

Beliau memotong kalimatku dan tertawa. Bicara tentang atasan yang pensiun dan kontradiksi atmosfer yang kini terjadi di ruangan.

“Semua orang pada dasarnya baik…” gumam teman di sebelah saya.

Yah, semua orang pada dasarnya baik. Hanya saja kadar baik buruk tersebut tergantung pada standar yang dipasang setiap orang.

“Syukurlah…” katanya.

Aku pun melanjutkan, “Saya menemukan hal-hal baru di sini. Terutama dari pinjaman proyek yang saya bahas”

“Pertama, saya baru tahu kalau soft loan ternyata punya konsep STEP alias Special Term for Expenditure Partnership. Jadi lender hanya membiayai proyek 85 % dan pemerintah harus menggunakan teknologi Jepang sebesar 30% dalam hal procurement”

“Kedua, ternyata ada perbedaan biaya pinjaman setelah Oktober 2008 – setelah JBIC dimerge menjadi JICA. Dulu, diterapkan service charge yang dihitung sebesar pinjaman yang ditarik, tapi sekarang diterapkan commitment fee yang dihitung sebesar pinjaman yang belum ditarik”

“Ketiga, realisasi pinjaman yang rendah juga disebabkan karena lender tidak selalu menyetujui 100% nilai kontrak atau penarikan. Mereka juga mempertimbangkan faktor eskalasi kurs saat dikonversi ke mata uang Rupiah atau Yen. Jika melebihi pagu yang diizinkan, kelebihan ini akan langsung dibebankan ke Bank Indonesia. Padahal, ada peraturan yang memayungi bahwa BI tidak lagi boleh menalangi rekening pemerintah”

“Hal-hal seperti itu tahu dari siapa?” tanya beliau.

“Dari arsip-arsip dan para pegawai di sana” jawabku.

Lalu beliau pun mengangguk dan menjelaskan point saya yang ketiga di white board, menjelaskan UU independensi, dan sebagainya.

Terima kasih telah mendengar. Saya merasa sangat dihargai, Pak. Tubuh saya tidak menggigil lagi.

Hangat.

“Karena didengar memang hak asasi setiap manusia…” – me.


*Sebuah kisah di sela-sela PKL dan pencarian data menuju Direktorat Evaluasi, Akuntansi, dan Setelmen*

2 comments:

naya said...

cerdas...",

ChitowIsCitra said...

iya,, cha.. comentku : kita hrs optimis bisa dan niat kita adlh berbicara sesuatu yang jujur n bermanfaat bagi yang mendengarkan kita,, itu yang harus kita lakukan :D

btw,, meskipun aku masih awam n bingung dgn ekonomi2 gitu,, senggak2nya aku dapat tambahan ilmu dari blog icha,,hohoo.. :D