August 30, 2010

KOMPRE – bukan sekedar LULUS

Ujian Komprehensif Tertulis: harga mati yang harus dilalui untuk dapat meraih predikat lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Rata-rata 10 – 15 mata kuliah keahlian yang diujikan oleh tiap spesialisasi dan secara komprehensif harus memperoleh nilai minimal C+.

Buat saya, kompre seperti mengenang masa-masa 3 tahun yang lalu saat sedang mengikuti Ujian Nasional dimana setiap jawaban begitu berharga dan menentukan lulus atau tidak lulus.

Tapi, lagi-lagi, kompre bukan sekedar lulus.

Melalui moment ini, saya bisa bercumbu dengan kesepian kamar dan membuka kembali memori demi memori tentang apa yang sudah saya pelajari sejak tingkat 1 dahulu. Belajar. Karena belajar bukan hanya untuk nilai, untuk point yang bisa dimodifikasi dan digubah tanpa rasa bersalah. Tapi belajar untuk kembali merekatkan memori kita, untuk meyakinkan bahwa kita tahu, untuk meningkatkan derajat kita karena memang suatu kebanggaan tersendiri saat kita tahu, kita bisa menjawab, dan kita bisa membagi yang kita tahu.

Melalui 3 hari yang menentukan ini, saya bisa menemukan hal-hal baru. Karena memang sistem dan prosedur selalu berlari terburu-buru didesak oleh efektivitas dan efisiensi, kompre bisa membuat kita mengenal hal-hal yang belum kita pelajari. Perubahan-perubahan signifikan di penyusunan anggaran tahun 2008 pasti berbeda dengan tahun 2010, atau perubahan dalam pelaksanaan barang dan jasa pemerintah, dan munculnya treasury notional polling pada sistem pengelolaan kas negara tentu saja membuka paradigma kita yang telah kadaluwarsa menjadi lebih baik.

Dan, karena kompre bukan sekedar lulus, fase ini juga mengajarkan saya tentang hidup.

Tentang teman yang hanya datang di saat butuh, atau yang senantiasa peduli tanpa terikat pada kondisi tertentu.

Tentang keluarga yang harap-harap cemas menunggu kabarmu dan dengan setia mengirimkan sms-sms cinta yang membuat saya menangis setiap membacanya.

Dan tentang hal-hal yang tidak lagi sanggup diungkapkan dengan kata, sehingga ngambek dan mengatupkan mulut jadi alternatif reaksi yang harus dipilih.

Dan tentang kenangan – tentang setiap hari yang pernah kita jalani yang membuat kita terisak dan kagum saat itu.

Dan tentang kesabaran.

Tentang perjuangan, man jadda wa jadda, percayalah itu harga mutlak. Dan pasti benar.

Sehingga saat nama itu tertera di surat keputusan kelulusan kompre, itu bukan sekedar nama. Tapi sebuah proses baru yang mengisi akalmu, menambah ilmumu, mengisi kalbumu, dan mendidikmu untuk sesekali belajar mengenakan kaca mata orang lain – agar dapat memandang hidup lebih baik.

Selamat menikmati kelulusan teman…

Apapun yang terjadi, ingatlah, bahwa kita selalu menjadi bagian dari keluarga yang dipertemukan oleh waktu dan impian…

Selamat datang pada langkah-langkah yang baru. Tidak menyangka ya bahwa kita sudah melangkah bersama dan sampai pada titik sejauh ini? :’)

1 comment:

wening said...

selamat atas kelulusannya mbak icha :)

udah ditunggu dunia kerja tu