September 27, 2010

Politik Waktu Dunia

Rasa penasaran saya selalu muncul saat menyaksikan program Liputan 6 Sore di SCTV. Coba perhatikan background di belakang penyaji beritanya; ada beberapa jam digital yang menunjukkan real time di beberapa negara. Tapi, yang paling menarik perhatian adalah, waktu yang ditunjukan oleh negara Singapura. Mengapa? Pada saat Jakarta masih menunjukkan pukul 17 lewat beberapa menit, di Singapura sudah pukul 18 atau lebih awal 1 jam. Padahal secara astronomis bisa diamati bahwa posisi Singapura sejajar dengan zona WIB Indonesia, atau hampir berhimpit dengan Provinsi Riau Kepulauan namun waktu di negara tersebut sama dengan waktu pada daerah-daerah zona WITA Indonesia.

Greenwich Mean Time

Perbedaan zona waktu dunia pada hakikatnya ditentukan oleh posisinya pada garis bujur. Garis Bujur adalah garis imaginer yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan bumi. Pemberian angka pada garis bujur berdasarkan satuan derajat, satu lingkaran penuh 360o, setengah lingkaran 180o, dimulai dari 0o. Dan posisi 0o itu telah disepakati adalah garis yang melalui Greenwich di London (GMT). Karena satu putaran bumi itu memakan waktu 24 jam, maka perbedaan waktu 1 jam adalah pada 360o/24 = 15o garis bujur. Artinya setiap tempat yang memiliki perbedaan posisi bujur sebesar 15o akan memiliki perbedaan waktu 1 jam. Inilah pembagian zona yang dirintis oleh orang Kanada, Sir Stanford Fleming (1827-1915).

Sebagai contoh Indonesia terletak antara 95oBT-141oBT, jika dihitung dari garis 0o maka posisi di 95o BT ini memiliki perbedaan waktu sebanyak 95o/15o = 7 jam lebih awal dari waktu di Greenwich. Akibatnya, Indonesia terbagi menjadi 3 zona waktu (WIB, WITA, dan WIT) yang masing-masing berbeda 1 jam. Namun kadang ada negara yang tetap menggunakan patokan waktu berdasarkan "kepentingan" nya, nah inilah yang terjadi pada Singapura dan negara-negara lainnya.

Singapura dan Malaysia

Singapura menyesuaikan zona waktu dengan Hongkong, demi keseragaman "waktu" perekonomiannya. Selain Singapura, Malaysia juga menerapkan hal tersebut. Semenanjung Malaysia bisa disamakan waktunya dengan Sabah dan Serawak di Pulau Kalimantan (setara dengan WITA). Penyamaan waktu ini dilakukan pada era pemerintahan Mahathir Mohamad.

Lalu, apa keuntungan yang diperoleh Malaysia dengan kebijakan ini? Selain penghematan energi listrik di Semenanjung , aktivitas di seluruh negeri bisa berlangsung efektif karena dilakukan secara serentak. Selain itu, mereka yang berada di Semenanjung Malaysia akan lebih cepat memperoleh informasi dan lebih awal beraktivitas. Kondisi ini diyakini oleh sebagian warga Malaysia membawa pengaruh positif dalam peningkatan perekonomian mereka.

Belanda

Amati pula bagaimana masyarakat Eropa menyesuaikan jam pada waktu-waktu tertentu. Di Belanda, kebijakan menerapkan waktu musim panas dan musim dingin telah dimulai pada 1977. Setiap tahun waktu musim panas ini dimulai pada Minggu dini hari terakhir di bulan Maret dan berakhir pada Minggu dini hari terakhir di bulan Oktober. Sebenarnya waktu musim dingin ituadalah waktu riil, sedangkan waktu musim panas adalah waktu rekayasa. Pada saat masuk waktu musim dingin (akhir Oktober), Waktu mundur satu jam. Malam akan jadi lebih awal gelap, dan pagi menjadi lebih awal terang. Tepat jam 03.00 dinihari waktu resmi mundur satu jam ke posisi jam 02.00. Tidur malam juga menjadi lebih panjang satu jam. Selisih dengan waktu Indonesia bagian barat (WIB) menjadi 6 jam dari semula 5 jam di musim panas.

Motif penerapan waktu musim panas itu adalah untuk menghemat energi dan uang. Berkat kebijakan tersebut pada tahun 2006 misalnya,Belanda dapat menghemat energi listrik sebesar 350 juta KWh atau setara dengan 0,3% dari total penggunaan listrik di Belanda. Jika dikonversi ke nilai uang, penghematan itu sama nilainya dengan Euro 10/tahun per satuan rumah tangga atau Euro 60 juta (sekitar Rp 690 miliar) secara nasional.Sebuah nilai penghematan yang cukup signifikan.

China

Jika menganut pembagian zona waktu ala Indonesia, seharusnya Cina membagi wilayahnya menjadi empat zona waktu. Namun negeri yang luasnya 1/15 luas daratan bumi itu hanya menerapkan satu zona waktu saja. Artinya kita bisa saja menyepakati waktu/jam jika seandainya menguntungkan untuk semua.

Time Synchronization - Indonesia Single Time

Indonesia sesungguhnya juga dapat menghemat jutaan KWh dan uang miliaran rupiah per tahun, dengan menerapkan kebijakan yang serupa tapi tak sama. Misalnya dengan menghapus WIB, WITA dan WIT menjadi hanya satu zona waktu saja. Salah satu opsi yang mengemuka adalah waktu disamakan dgn WITA : WIB maju 1 jam dan WIT mundur 1 jam. Penerapan kebijakan satu zona waktu untuk seluruh Indonesia itu salah satu keuntungannya adalah akan membuat seolah-olah kedatangan malam menjadi tertunda di sebagian besar wilayah Indonesia, yang efeknya akan mendorong orang menunda menyalakan lampu. Berarti ada potensi penghematan energi di sini.

Selanjutnya, kota-kota bagian Barat Indonesia (WIB) yang relatif lebih dominan di hampir semua bidang dibandingkan Timur Indonesia utamanya ekonomi dapat memulai aktivitas dan memperoleh informasi lebih awal dari sebelumnya. Perdagangan internasional termasuk pasar modal & valas akan lebih awal dimulai & menjadi serentak dgn Hongkong dan hanya telat sejam dari Tokyo. Selain itu, aktivitas ekonomi diseluruh Indonesia dilaksanakan secara bersamaan. Contohnya: Bali dan Surabaya yang secara faktual hanya berbeda beberapa menit saja, namun akibat dari pembatasan wilayah waktu menjadi berbeda 1 jam.

Kerugian yang harus diperhatikan dari usulan kebijakan ini adalah selain biaya yang timbul, masalah utamanya adalah perubahan kebiasaan. Misalnya penduduk di Barat harus memulai aktivitas lebih awal, ketika hari masih agak gelap, perubahan waktu shalat yang mengikuti kaidah posisi matahari, sholat Dzuhur di Jakarta akan menjadi pukul 13.15, kemudian shalat Maghrib menjadi pukul 19.30 , menunggu matahari terbenam, dsb. Hal ini yang berlaku di Semenanjung Malaysia saat ini.

Mecca Mean Time

Karena adanya politik waktu ini, Pemerintah Mekkah akhirnya mengumumkan keinginannya untuk mengubah basis waktu dunia dari Greenwich ke Mekkah dengan pengumuman pendirian jam terbesar di dunia yang dikenal dengan Abraj Al-Bait Tower pada tahun 2004. Jam ini mulai berdenting hari Kamis 12 Agustus 2010. Sejak bulan puasa tahun ini jam ini diuji coba dan diharapkan menjadi alternatif panduan waktu bagi 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia.

Rencana pemerintah Arab Saudi menggeser basis waktu dunia ini tentu bukanlah masalah sepele. Dari segi material saja pembangunan jam ini menghabiskan dana sebesar 800 juta dolar AS. Desainnya dibuat oleh desainer dari Swiss dan Jerman. Terlebih pada usaha menggeser waktu dunia ke Mekkah tentu bukan perkara mudah mengingat GMT yang telah digunakan selama 125 tahun ini dalam penetapannya juga melalui serangkaian proses yang alot.

Alasan yang digunakan dalam upaya penggeseran basis waktu dunia ini yang telah diungkapkan sebelumnya, Mekkah adalah zona magnet nol yaitu zona tanpa kekuatan magnet yang dibuktikan dengan tidak bergeraknya jarum kompas di Mekkah. Namun hal ini ditentang oleh ilmuan barat yang menyatakan bahwa kutub utara pada kenyataannya berada di garis yang melewati Kanada, AS, Meksiko dan Antartika.

Oleh karena itu dalam mewujudkan MMT ini pemerintah Arab Saudi harus menyiapkan konsep yang matang dan dapat meyakinkan berbagai pihak internasional. Karena ini sangat menghentak dunia yang diniali menentang konvensi dunia 1884. Jika MMT disepakati, maka pemerintah Mekkah harus mempunyai aturan waktu baru bagi dunia yang telah menggunakan GMT sejak dulu kala dan pada akhirnya diyakini akan menjadi titik balik Islam.


*dikutip dari berbagai sumber dengan perubahan*

2 comments:

fulcrums said...

konsep waktu tunggal di Indonesia bagus tu.
1. seperti yg diuraikan di atas tentu ada potensi memajukan perekonomian dan penghematan energi
2. terkait jadwal soal, hal ini tidak masalah. toh hanya perhitungan watunya yang berubah.. waktu faktualnya tetep ga berubah dari dulu

creamy_cha said...

iya fir, sepertinya memang butuh waktu yang cukup lama untuk mensosialisasikan dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan jadwal tersebut. Tapi jika dampaknya lebih menguntungkan, kenapa tidak?

Dan kalaupun IST tersebut mau direalisasikan, konsepnya harus jelas sehingga bisa dipertanggungjawabkan dan diapprove dalam konvensi waktu dunia di Greenwich.