September 29, 2010

Renungan: Bung Hatta, Sepatu Bally, dan Mesin Jahit

“In character, in manner, in style, in all things, the supreme excellence is simplicity.” Henry Wadsworth Longfellow quotes.

Apa yang langka dari pemimpin-pemimpin bangsa kita saat ini?’

Kesederhanaan.

Saat masyarakat terjerat oleh kemiskinan dan kemelaratan, para wakil rakyat yang kita hormati berbondong-bondong menghabiskan uang dalam dompet negara untuk plesir mewah dengan topeng studi banding, atau untuk tidur dalam gedung nyaman dan ber-AC.

Kesederhanaan.

Saat para pemimpin yang kita percaya terbelenggu dalam konflik kepentingan – saat masih sempatnya memikirkan keselamatan prioritas kepentingan pribadi daripada kepentingan masyarakat dan kehilangan wibawanya, kehilangan amanahnya.

Kesederhanaan.

Saat pemimpin kita mengalami degradasi mentalnya karena kekuasaan dan harta. Membuat masyarakat dibutakan oleh teladannya.

Bertolak dari ‘kesederhanaan yang dirindukan itu’, saya teringat dengan suatu kisah di sebuah buku pelajaran yang pernah saya baca di Sekolah Dasar. Dan hingga saat ini masih sangat membekas di ingatan saya: Kisah kesederhanaan Bung Hatta dan kesetiaanya pada kepentingan bangsa.

Kisah Bung Hatta dan Sepatu Bally


Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.
Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain.

***

Kisah Bung Hatta dan Mesin Jahit

Sewaktu Bung Hatta masih menjadi orang nomor dua di Republik ini, ternyata untuk membeli sebuah mesin jahit pun tidak bisa dilakukan begitu saja. Istri beliau - Rahmi Hatta- harus menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta.

Namun rencana membeli terpaksa ditunda, karena tiba-tiba saja pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp 100 menjadi Rp 1. Akibatnya, nilai tabungan yang sudah dikumpulkan Rahmi menurun dan makin tidak cukup untuk membeli mesin jahit.

Karena ikut terkena dampak adanya keputusan sanering tersebut, Rahmi kemudian bertanya pada suaminya kenapa tidak segera memberi tahu akan ada sanering. Dengan kalem Bung Hatta menjawab, itu rahasia negara jadi tidak boleh diberitahukan, sekalipun kepada keluarga sendiri.

***

Kita semua merindukan sosok-sosok pemimpin yang demikian, seperti Bung Hatta yang meniadakan kepentingan pribadinya demi bangsa -bahkan hal-hal yang sangat biasa atau sederhana sekalipun seperti sepatu Bally dan mesin jahit - ataupun sosok Ahmadinejad yang sangat terkenal dengan kebersahajaannya.

Semoga masih ada sosok pembaharu unruk pertiwi yang sedang menangis ini di generasi kita dan generasi selanjutnya. Semoga…

*dikutip dari berbagai sumber dengan perubahan*

1 comment:

Baharuddin said...

Mdh2an lulusan STAN jg bisa menjalankannya..