September 30, 2010

Tanpa Kata


Ya, hubungan ini berawal dengan tanpa kata.

Dan, aku pun tetap menunggu di sini dengan tanpa kata.

Walau sebenarnya aku lelah, kecewa, dan terluka.

***

Di halte ini aku menunggu. Setiap pagi dan malam - sebelum dan setelah aktivitasku meradang. Ataupun setiap akhir pekan, aku duduk diam dengan buku di tangan dan harapan yang dibawa pelangi di angan.

Di halte ini aku menunggu. Menunggu pertemuan langka itu datang lagi. Saat pertama kali kita berpapasan, kau turun di halteku. Tanpa kata. Tapi aku melihatmu, dengan sangat jelas, membawa kunci itu. Yang membuat hatiku rela untuk terbuka kapan saja.

Hubungan ini memang dijalani dengan tanpa kata. Tapi aku percaya. Sepercaya bumi terhadap matahari yang setia dengan cahayanya, atau sepercaya air yang selalu kembali ke muara.

Aku merindukanmu. Bagaimana tidak? Aku hanya beberapa kali berpapasan denganmu, tanpa sengaja, di haltemu atau di halteku. Tapi aku tak sanggup berkata-kata. Gengsi. Sama gengsinya dengan mawar yang menjentikkan durinya karena takut disentuh, padahal hakikat bunga, ingin sekali disentuh.

Hubungan ini tetap dijalani tanpa kata. Walau aku hanya bisa mendengar kabarmu dari lagu yang dibawa angin, dari hujan yang turun di hari Rabu, atau bintang-bintang yang berkedip menggodaku. Tapi aku puas. Walau aku hanya bisa melihat wajahmu dengan mengendap-endap tertatih ke haltemu, membawakanmu sepintal senyum atau wajah hangat yang tersembunyi dalam pekat untuk menunjukkan padamu bahwa aku baik-baik saja.

Tahukah kamu?

Aku masih setia menunggu di sini. Menunggu kepastian darimu memberikan kunci itu kepadaku. Sebelum pintu hatiku berkarat, karena dibiarkan terkapar terlalu lama.

Tidakkah engkau merindukan aku?

Lihatlah bunga-bunga yang selalu kutanam di tepian halte ini, yang kujaga setiap hari. Memperindah halteku, mempersiapkan diriku. Agar suatu saat nanti, kau kembali menjejakkan kaki di sini, kau bisa melihat kupu-kupu yang saling bercumbu. Melihat warna merah jambu, jingga, dan ungu melengkapi halteku yang kelabu. Agar kau tetap di sini, betah, dan enggan untuk pergi.

Tidakkah engkau ingin tahu kabarku?

Aku yang selalu berdegup kencang saat bus-bus yang biasa kau tumpangi itu datang. Dan aku yang tak kuasa menanggalkan senyum memandang wajahmu dari kejauhan walau hanya ilusi semata. Hanya fatamorgana kegalauan.

Sudah terlalu lama.

Hubungan ini masih seperti dulu, tanpa kata. Dan aku pun bertanya, layakkah kita menyebut ini hubungan? Tidak. Ini hanya sebuah kebodohan. Tipuan hati sepasang insan yang hanya bisa saling pandang, tanpa ada keberanian.

Dan aku pun menghapus air mata penantianku yang tak terhitung lagi. Lihatlah, bunga-bunga yang kutanam telah layu. Tidak sempat mekar. Kering. Aku lupa mengurus tamanku karena dilanda patah hati yang hebat.

Patah hati. Lelah. Aku butuh pelarian.

Kulihat seseorang yang mengagumi tamanku setiap hari, dan bertanya-tanya mengapa bunga-bungaku jadi seperti ini. Dan dia memberikanku sebuah kunci. Aku menerimanya. Walau tidak pas di pintu hatiku. Walau aku harus merobek gagangnya agar aku bisa merelakannya merebut hatiku yang berharga.

***

Di suatu siang di bulan Desember.

Aku dan dia pergi bersama mengikuti langkah kaki.

Dan aku turun di halte itu. Tempat aku berpapasan denganmu yang niscaya tanpa kata.


Aku melihatmu. Masih duduk di situ, di halte itu. Menunggu dengan wajah kelabu. Menungguku. Menungguku. Tapi, aku tak pernah tahu. Aku terlalu gengsi untuk datang ke haltemu, menghampirimu.

Padahal, kau juga menunggu di sana. Untuk aku.

Seandainya aku tahu dari dulu.

Tidak hujan tapi langit menangis. Mengikuti rintihan hati yang penuh penyesalan.

Dan, hubungan kita pun berakhir. Tanpa kata.

***

4 comments:

guguh said...

Aisshhh...
menusuk!!

Muhammad said...

hm..ini kisah nyata??

luar biasa sekali jika benar2 kisah nyata...

Tapi kunci yang tidak tepat...tampaknya hanya akan berakhir dengan rusaknya gagang pintu yang memaksakan untuk menerima kunci itu...seandainya kunci itu mengerti...

creamy_cha said...

@kak guguh: makanya kak, jangan diawali dan diakhiri dengan tanpa kata yaa :P

@muhammad: bukan kisah nyata kok, hehe, dan endingnya juga masih belum diketahui... :)

iyaa, seandainya kunci itu mengerti ^^

Ardani Kurniawan said...

Saya jd terharu baca tulisan di blog ini.. Menyedihkan