October 20, 2010

Abstrakisme: Kita

Kita memang seperti cuaca; merindukan mentari di waktu mendung, dan menantikan rintik hujan di saat terik.

Kita memang serupa bayangan; kadang muncul kadang hilang, yang kadang menjadi pelindung, namun di lain waktu membuat kalut.

Kita memang seabstrak kata suka atau duka; yang molekul dan atomnya tak dapat diuraikan, dan derajat biasnya pun tak dapat dipastikan.

Koordinat kita memang sejajar dengan sumbu X hati dan sumbu Y rasa yang tegak lurus dalam satu fungsi: cinta.

Bagi orang dewasa – cinta itu seperti angin; kadang tak dapat dilihat tapi dapat dirasakan. Ya, cinta memang seperti angin; penuh kelembutan, keteduhan, walaupun selalu ada peluang untuk membuat kerusakan. Tapi karena cinta seperti angin – maka kita bisa memilih sang angin yang menyejukkan dan membawa kebaikan; pengantar serbuk sari untuk membuahi putik, penggetar siulan burung kenari di gendang telinga, atau pembawa embun yang didaratkan hujan di lembar-lembar ilalang.

Bagi orang dewasa – cinta itu bisa dipertemukan oleh gelombang dalam maya, direngkuh oleh waktu dalam nyata, dan dihubungkan oleh tanda seru, huruf, angka, dan suara.

Terima kasih pada fisikawan. Terima kasih pada programmer. Terima kasih pada guru Bahasa Indonesia. Dan terima kasih Tuhan, Engkau memberikan satu kesempatan: kita.

Walaupun, bagiku atau bagimu, menerjemahkan pikiran abstrakis yang kita punya adalah suatu kelelahan. Mendekati gagal. Tak akan pernah kita temukan definisinya di kamus-kamus yang tertumpuk di meja, tak akan pernah mungkin kita dapatkan dasar hukumnya di kumpulan peraturan, kebijakan moneter, dan catatan kaki sang sarjana; bahkan search engine nomor satu pun tak akan pernah memuaskan kenihilan itu: kita.

Karena aku, kamu layaknya bilangan irrasional – tak terdefinisi tapi ada: kita.


Hati itu punya pikirannya sendiri; terdengar egois tapi sebenarnya dia galau. Dia punya kendali untuk bisa menaklukkan otak, mata, kaki, dan tangan tapi sesungguhnya dia pembimbang. Dan dia selalu menyimpan impian diam-diam yang tak dapat dipahami orang-orang, dan hanya dapat disandarkan pada Tuhan: kita.

Karena hati tak dapat disuap oleh harta benda, tak dapat disemaikan oleh bibit yang salah, dan tak dapat dipaksakan untuk bersemi sebelum waktunya. Tapi dia bisa membaca – apa yang terjadi di antara aku dan kamu – kita. Tapi dia bisa belajar – menerimaku dan menerimamu – kita. Walau dia tak bisa mengintip apa yang tertulis dengan tinta permanen di langit: mungkin bukan kita.

Tapi yang terpenting saat ini, tolonglah jangan tambah kesedihanku. Itu saja. Karena tak ada gunanya merisaukan hal-hal yang bukan wewenang ciptaan. Dan karena aku takut: kita. Pada akhirnya, aku, kamu, tak mendapatkan apapun atau siapapun.

7 comments:

fulcrums said...

bahasanya bagus cha...:D

sandro said...

Daleeemm..

Baharuddin said...

Jangan takut.
Karena sejak awak cinta datang 'kita/aku/kamu' telah mendapakan lebih dr sekedar ukuran (dunia) atas apapun n siapapun.
Karena cinta bukanlah abstrakisme fisik,tapi jiwa,Ar-Ruh.
Karena Jika aku/kamu mbuka mata maka hati akan mampu membaca jika 'kita' tidak harus saling memiliki.
Jangan takut.
Kenapa harus merisaukan sesuatu y sudah ada kadarnya.Jodoh.
Rezeki.
Umur.
Baik-Buruk.
Karena berserah diri pada-Nya adalah jalan orang2 beriman terdahulu.
Berprangka baik.
Dimana setiap Cinta 'kita/aku/kamu' memiliki ujung y satu.
TAWAKAL.

Baharuddin said...

Jaga kesehatan..
Lebih baik cepat tidur,cepat bangun.
Tidur di saat y lain terjaga n terjaga saat y lain terlelap.
Dan Sujud
:)

Baharuddin said...

maaf
awak:awal

berprangka:berprasangka

salah sering mbuat saya senang.
Mengingatkan saya bhw saya tidak hebat,bukan apa2.

creamy_cha said...

@fulcrums: thank you :)

@sandro: hahaha

@baharuddin: wew, ini cuma metafora kok suf :)

Baharuddin said...

itu jg cm metafora chan..
:)
he..