October 5, 2010

Cita-cita vs. Kenyataan

“Kalau besar nanti mau jadi apa?”

“Mau jadi presiden!”

“Insinyur!”

“Dokter!”

“Kenapa?”

“Chila mau cembuh-cembuhin teman chila yang cakit, bial bica berlmain cama-cama lagi…”

Hehe. Tadaaa! Yah, itulah sepotong cuplikan pertanyaan yang biasa diajukan oleh orang dewasa ke anak-anak. Tentang cita-cita, masa depan, dan harapan. Dan kita pun, saat itu, menjawabnya dengan pekerjaan standar – pekerjaan impian – dokter, insinyur, pramugari, atau polisi. Tanpa tahu yang kita cita-citakan itu sebenarnya apa.

Dan pastinya tidak pernah terdengar ada anak kecil yang bercita-cita mau jadi PNS!

Hehe.

Yah, anak-anak dan masa kecil. Masa yang cukup indah karena kita tidak pernah khawatir dengan apa yang terjadi di hari esok, tidak memandang teman kita dari ‘sesuatu’ – ya udah, ketemu langsung bisa main bareng – dan tidak merasa sepi walau hanya ditemani selembar kertas dan sekotak krayon.

Cita-cita di masa kecil saya juga standar: dokter anak. Lalu mama pun membelikan satu paket permainan dokter-dokteran, lengkap dengan bonekanya yang pada akhirnya jadi pemeran antagonis di antara boneka-boneka saya karena wajah dan rambutnya mengerikan. Setelahnya, cita-cita saya pun berubah: jadi chef. Entah apa alasannya, kayaknya keren bisa masan makanan yang enak-enak. Beranjak SMP, cita-cita pun mulai spesifik, pingin jadi ahli farmasi. Walau lagi-lagi nggak tahu farmasi itu apa – sepertinya seru bisa nyampur-nyampur obat. Dan sejak SMA, cita-cita saya mulai jelas, mau jadi ahli astronomi. Karena memang suka astronomi dari kecil dan belum banyak ahli astronomi di Indonesia.

Cita-cita sih bisa setinggi langit, tapi ingat selalu ada batas anak tangga yang kita punya untuk bisa kita daki – kondisi finansial dan kesempatan adalah salah satu batasnya. Banyak orang-orang pintar tapi tidak punya kesempatan, tapi banyak pula yang punya kesempatan tapi menyia-nyiakannya. Walaupun jika kita mau, kita bisa saja merobohkan batas itu.

Tapi, tetap saja ada batas lain: takdir.

Tidak pernah sama sekali terlintas dalam benak saya pada akhirnya akan menjadi PNS. Beralih dari Teknik Industri USU ke STAN – yang kedua-duanya juga bukan keinginan saya, saya anggap itu adalah bagian dari takdir. Yap, 3 tahun masa pendidikan sudah terlewati -LULUS- dan kini saya sangat mencintai ketidakinginan saya dulu itu. Mensyukuri setiap kedewasaan dan anak-anak tangga lain yang disediakanNya untuk saya.

Saya jadi teringat dengan kisah yang dituturkan oleh teman saya tentang seorang mahasiswi baru yang ingin mengundurkan diri setelah baru saja melewati 1 hari dinamika lembaga. Keinginannya itu muncul setelah mendengar pernyataan: “…jika memang tidak dari hati, atau tidak siap mental, lebih baik mengundurkan diri dari sekarang saja…”. Pernyataan itu dia tanggapi dengan serius.

Dia suka filsafat, dan ingin kembali ke kampusnya yang dulu – walau mungkin sudah terlambat. Yah, ambisi. Seperti saya dulu. Ambisi yang membuat kita tidak peduli dengan bagaimana perasaan orang tua, berapa banyak biaya yang sudah dikorbankan, atau ketidakmampuan untuk sedikit saja membuka hati. Toh, tempat ini tidak terlalu buruk. Kedewasaan muncul saat kita belajar mencintai apa yang ada di hadapan kita, dan menemukan bahwa inilah jalannya. Kita masih bisa belajar banyak hal di sini kok. Tidak tertutup kemungkinan. Lihat saja, banyak sekali anak STAN yang ahli di ilmu lain: sastra, komputer, ataupun bisnis misalnya.

Di sini saya juga belajar untuk membuka mata bahwa PNS bukan sesuatu yang buruk: apa yang saya lihat selama ini adalah stigma dari kurangnya integritas dan profesionalitas aparatur negara kita.

Toh, kita juga bisa punya karir, pendidikan, dan pengalaman yang cemerlang dari sini!

Entah kenapa, rasanya saya baru sadar, cita-cita di waktu kecil sebagian besar orang sangat langka tewujud menjadi kenyataan di masa depan.

Takdir.

Tapi percayalah, Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan mimpi-mimpi kita. Dia hanya mengubah kemasannya, menyederhanakannya, atau memodifikasinya agar lebih kompatibel dan realistis.

Semangaaat! Hidup akan tetap berjalan untuk orang-orang yang selalu punya harapan ^^

No comments: