October 20, 2010

Red Graduation

Air mata saya sudah dihemat

Disimpan dalam kantungnya yang pekat

Untuk menyambut Oktober nan memikat

Dan benar saja,

Bulan ini saya memang butuh banyak air mata :)


Alhamdulillah, setelah 3 tahun ibunda STAN mengandung sekitar 1300an mahasiswanya, maka saya termasuk salah seorang yang turut dilahirkan di tahun 2010. Ya, dilahirkan ke dunia kerja. Buat saya, lulus dari kampus ini adalah salah satu kebahagiaan yang tak tergadai. Banyak sekali hal-hal yang telah dilalui: putus asa, takut, kecewa, stress, sepi, tawa, cinta, cita, yang keseluruhannya adalah pelengkap perjuangan dan bahagia ini; dan tanpa diduga mengantarkan saya memperoleh predikat wisudawan terbaik dari spesialisasi Kebendaharaan Negara tahun 2010. Syukur yang tiada habisnya pada Allah :’).


Bulan ini saya memang butuh banyak air mata.

Yudisium yang digelar di gedung G STAN pada tanggal 4 Oktober 2010 untuk spesialisasi Kebendaharaan Negara dan PPLN sudah cukup membuat saya mengharu biru. Buat kalian yang sudah memeluk saya di hari itu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya tertular dua hal: tawa dalam syukur dan tangis; dan gelisah akan datangnya perpisahan.

Karena persahabatan layaknya morfin yang bikin kecanduan.

Dan tiga tahun bersama membuat hubungan kita sudah cukup pekat meski tanpa kesamaan darah.


Bulan ini saya memang butuh banyak air mata.

Apa selanjutnya? Wisuda. Hari bersejarah untuk para mahasiswa ini digelar di Sentul International Convention Center pada tanggal 12 Oktober 2010. Dengan kebaya merah maroon dan high heels (akhirnya), saya didampingi oleh orang tua, adik, om, dan tante yang sudah berjuang penuh agar saya bisa mengikuti wisuda dengan baik. Maaf ya buat kalian para pendampingku karena sudah membuat kalian menangis saat saya berdiri di barisan wisudawan terbaik dan nama kalian digaungkan sebagai ayah ibu dari anandamu. Lalu apa yang terindah dari hari itu? Saya bisa bertatapan langsung dengan Ibu Ani Rahmawati – Wakil Menteri Keuangan dan bersalaman dengan beliau. Ibu Ani cukup mirip dengan Ibu Sri Muliani – idolaku – jadi tidak perlu kecewa. Sangat puas, malah. Pesan beliau yang paling membekas buat saya: "Berapapun gaji kalian pada awalnya nanti, syukurilah, karena kalian sudah jauh lebih beruntung dari orang-orang yang tidak punya pekerjaan". Insya Allah. Insya Allah. Terima kasih pula pada 12 kuntum mawar yang menambah kebahagiaan saya di hari yang merah maroon itu ^^



Yeah, it is not ending, it’s only the beginning. Tetap belajar, tetap berjuang, tetap bertawakkal, tetap ikhlas, dan tetap jadi orang baik – apapun yang terjadi – sampai kapanpun.

2 comments:

Lina said...

icha... adekku...

terima kasih telah mambuat air mata mbak meleleh hari ini...

barakallah sayang...

semoga keberkahan, kesuksesan, dan kemudahan selalu mengiringi setiap langkahmu...

mbak tunggu di rimba kementerian keuangan dek...^^

creamy_cha said...

*hugs*

Insya Allah mbak, tapi masih degdegan nih mau masuk dunia kerja...

mudah-mudahan Allah selalu memudahkan...

Makasih ya doanya mbak, doanya buat mbak ku tersayang juga ^^

Bismillah...