October 30, 2010

Shaking The Sky

Postingan ini terinspirasi dari tweet yang saling berbalas yang dilakukan secara tak sengaja dan tak terorganisir oleh saya dengan seorang teman – sang penikmat langit (nama disamarkan, hehe). Dan, kisah langit pun tercipta melalui rangkaian hashtag yang diberi nama #sky. Saat saya melakukan ini, saya teringat dengan prosa 28 Hari untuk Selamanya yang juga tercipta dari prosa-prosa yang saling berbalasan. Saya tak sabar melakukan ini untuk selanjutnya karena balasan yang muncul sangat tak bisa diduga dan pastinya mengejutkan!

Wow, I’m really excited, shocked, and speechless! Thanks Sky Lover :)

Kalian bersedia? :)


Sky Lover: Tak ada cahaya bulan yang memantul ke mataku (lagi). Kasihan sang bintang yang telah menunggu sejak petang.

Me: Sang bulan pun harus mengalami siklusnya. Sang bintang tak akan kecewa, langit selalu indah. Dan bulan pasti datang lagi :')

Sky Lover: Mungkin sang bulan sedang mengumpulkan sinarnya untuk purnama kelak. Layaknya manusia, yang harus meningkatkan kapasitas agar jadi lebih pantas.

Me: Dan dia sesungguhnya tetap menatap dari jauh. Menyembunyikan kilaunya sesaat untuk mengajarkan arti kehilangan dan kerinduan.

Sky Lover: Tapi apakah bulan tahu jika bintang juga punya titik kesabaran.Seperti bintang malam ini, ia tenggelam dalam awan karena bulan yang tak kunjung datang.

Me: Mungkin dia tak pernah tahu karena mereka hanya saling pandang, bermain cahaya : tanpa kata. Tapi cukuplah menjadi bukti untuk bintang bahwa bulan slalu ada.

Sky Lover: Bulan memilih bintang yang plng bersinar dari milyaran bintang. Tapi sebaliknya, milyaran bintang harus bersaing demi satu bulan. Adilkah?

Me: Apa sebenarnya yang dicari bulan? Sepertinya bulan hanya berpihak pada matahari - bintang yang memberiny cahaya. Tp mereka tak pernah benar-benar bersama.

Sky Lover: Bulan memang berpihak pada matahari, tapi sebenarnya bintang yang berjarak puluhan tahun cahayalah yang jadi padanannya sehingga langit indah.

Me: Jika bintang yang datang dari jauh itu tak muncul lagi, mungkin bulan pun tak merasa sepi. Padahal dari cahaya bintang itu bisa terlihat jelas kesedihan.

Sky Lover: Bintang bukan tak muncul lagi, tapi sepertinya sudah ada bintang lain yang lebih dahulu di sisi sang bulan. Tapi itulah resiko jadi bintang.

Me: Walaupun dia sudah menunggu sejak petang. Tapi dia sudah bahagia dengan hanya bisa berada di belakang bulan, bukan tepat di sisinya. Cahayanya masih sama. Sama!



Okay, I almost cried in the ending of this tweet . Fyuuuuh T_T

5 comments:

Anonymous said...

sky lover seperti merk sendal jepit, sky w*y...hahaha

Mamat... said...

Mantap kali bahasamu,hihihi

Aku musti banyak belajar menulis dari Ica nih... :)

Family Blog said...

Subhanallah.......

Family Blog said...

salam kenal..

creamy_cha said...

thanks all :)