November 21, 2010

Bingkai

Kaku, sempit, tergantung di sudut ruangan. Jika kau beruntung, kau bisa ditempatkan sedikit lebih mencolok, di ruang tamu atau ruang keluarga. Dengan kayu mengkilat, sedikit ukiran emas, ataupun perak. Lalu terselubung kaca tipis yang mendesakmu tegak berdiri di dalamnya.

Jika pemilikmu berhati besar, mungkin dia menempatkanmu sedikit lebih rendah. Di sofa, tempat tidur, atau meja belajarnya. Lalu dia mengecupmu sesaat, memandangmu beberapa kali, atau melemparmu tanpa kendali. Tapi kau tetap saja berdiri di situ. Meregang. Diam.

Kau ini cantik. Penuh pesona di antara warna-warni dinding yang tua dan muda. Tapi tetap saja kau tak bahagia. Karena kau hanya bisa berdiri di sana, memuaskan banyak orang dengan kekakuanmu, menyakiti batinmu sendiri di ruangan sempit itu. Diam. Tak punya hak untuk mengambil keputusan.

Bagiku kau adalah analogi untuk ketidakberdayaan. Kau adalah keindahan yang terpenjara oleh gagah dan sempitnya pola pikir lingkunganmu. Jika kau beruntung, kau akan dipandang sesekali, dikagumi, lalu diabaikan lagi. Tak lelah ya kau tersenyum di sana?

Jangan undang aku lagi ke tempatmu ya. Karena aku sudah memilih hidup di sini. Di alam semestaku dengan bahagia. Dan aku telah mengganti bingkai kacamataku menjadi lebih lebar, jernih, dan tak melulu berwarna jingga.

Karena hidup itu pilihan, kawan. Biarkan kau yang memilihnya dan membentuknya. Bukan sebaliknya.

No comments: