November 23, 2010

Harta Karun dalam Kardus

Aku baru saja membongkar kardus-kardusku yang berisi memori dan aset selama menghuni kos-kosan di Rumah Kuning Jurang Mangu. Membuka kardus adalah salah satu kebahagiaan dalam hidup, karena kita bisa menemukan banyak benda yang bahkan mungkin kita lupa kalau kita pernah punya, dan mengumpulkan kembali banyak kenangan yang membuat kita terjun bebas lagi ke masa lalu – dan membawa kembali benda-benda lucu itu saat ini – walaupun hanya sekedar pin lucu, boneka kayu, pensil warna, ataupun guntingan foto hasil photobox. Dan yang saya temukan adalah satu bundel print out kertas A4 dengan tebal sekitar 250 halaman – yang notabene jauh lebih tebal dari laporan PKL saya. Wew. Covernya biasa saja – hanya ada satu kata dengan font Arial Black warna hijau.: DILEMA. Masterpieceku di masa SMA :D


Masa SMA itu benar-benar penuh mimpi dan passion ya. Suatu masa di mana saya sangat mempercayai mimpi dan menganalogikan hidup sebagai eskrim – perpaduan dingin dan manis. Klise sekali. Seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi menjadi gadis yang pemimpi – tapi gadis yang lebih realistis – yang menikmati dan menerima coretan-coretan dari langit dan hadiah dariNya apa adanya. Karena inilah hidup yang sebenarnya.

Masa SMA memang masa mengumpulkan puzzle diri karena sesungguhnya hidup belum dimulai saat itu - kita hanya memasang label startnya, menyiapkan energy untuk berlari, dan mencari sepatu yang pas untuk benar-benar bisa berlari.

Ya, Dilema. Novelku yang pertama yang kuselesaikan dalam waktu 2 bulan – salah satu ambisiku sebelum berusia 17 tahun. Setiap malam setelah mengerjakan PR aku secara konsisten menyelesaikan halaman demi halaman hingga mama memadamkan semua lampu (dan muncul penampakan yang membuatku trauma, ini serius -___-“) dan seharian penuh di depan computer jika hari libur. Walaupun tema novel itu hanya berupa kisah percintaan remaja standar (yang tidak sama sekali pernah dirasakan penulisnya), persahabatan, kompetisi, keluarga, lengkap dengan cowok misterius yang cool (sinetron banget), dengan gaya bahasa gue elo (yaelah -__-“), cewek cerdas penuh pesona, cewek jutek, cewek centil, cewek cupu, haha, but for real, saya banggaaa banget, setidaknya bisa menghasilkan sesuatu.

Ambisi itu muncul ketika saat itu lagi rame-ramenya novel Teenlit yang digandrungi oleh ABG (dan saya pun ikut-ikutan suka) seperti Fairish, Backstreet Aja dan Dealova eh akhirnya pingin nimbrung tenar juga. Pingin jadi penulis! Inspirasi buat berani nulis muncul setelah baca teenlit Cinta Adisty yang ditulis oleh Gisantia Bestari saat usianya baru 12 tahun. Wew, masa saya ga bisaaa? Berkat nekat coba-coba nulis novel itu –saya mulai belajar menulis pertama kali, belajar memahami bagaimana mengharmonisasi kata dan rasa dalam sebuah tulisan. Karena menulis adalah kebutuhan yang dimulai dari kebiasaan. Walaupun hasilnya, novel saya ditolak oleh dua penerbit, tapi ya udahlah, saya sadar tulisannya masih standard banget dan saya simpan sendiri aja buat aset pribadi anak cucu nanti. Hehehe. Sebenarnya pingin bisa benar-benar punya novel sendiri yang memenuhi kualitas buat dipublish, saya pun bikin lagi tema baru (yang ngga sinetron banget), judulnya Kisah Sepiring Gado-gado. Tapi di tengah-tengah cerita, kok saya jadi ilfeel sama ceritanya. Akhirnya nggak dilanjutin deh T___T

Heran yaa, dulu itu kalau ada kemauan, kekeuuuh banget. Pingin jadi penulis, usahanya total. Mulai dari ngumpulin info-info tentang sayembara penulis remaja, rajin beli buku tips-tips nulis dan nerbitin buku, ikutan seminar-seminar, sampai konsisten bisa nulis 5 halaman per hari. Tapi kok sekarang nggaaak T___T (syukurlah masih bisa nulis blog). Trus, pingin bisa beli novel mahal-mahal, Harry Potter contohnya, sampai nabung habis-habisan dan langsung habis dibaca sampai nggak ingat mandi, makan, nonton, tapi sekarang kok nggaaaak T___T (buktinya masih banyak buku dalam kardus yang belum sempat tuntas dibaca).

Walaupun kuantitas menulis dan membaca saya sekarang tidak seperfeksionis dan seekstrem dulu, tapi sekarang saya lebih milih-milih kalau mau baca – lebih suka sastra Indonesia yang bahasanya baguuuus banget, bisa bikin nangis (padahal dulu nggak suka) dan buku-buku pembangun jiwa lainnya. Seru rasanya ya mendengar gesekan kertas di jari, merasakan aroma buku baru dan lama yang khas banget, dan menyisipkan bookmark di halaman terakhir yang kita baca.

Oh iya, kendala lain yang saya rasakan sekarang kalau saya baca buku yaitu kalimat yang saya baca berbeda dengan yang seharusnya tertulis di situ, dipelototin gitu doang, atau yang saya bayangkan lari banget dari cerita di situ, jadi harus dibaca ulang. Pikiran sering campur aduk sih. Haaaaah T_____T

Saya simpan lagi Novel Dilema ini dalam kardus, karena membaca tulisan sendiri rasanya ga siap mental – malu malu gimanaaa gitu *red face* hihi

2 comments:

guguh said...

Mana? mana?
mana Novelnya?
baca dooooong!!!
ceritanya kaya Cinta Fitri ya jangan2?
he..he..

creamy_cha said...

jangan kak, hehe :)
icha aja malu bacanya
kayak cerita FTV, wekeke