January 2, 2011

Akhir

Karena pada dasarnya kita memang harus terbiasa pada yang berakhir. Percayalah, sebuah perpisahan pun pasti memiliki akhir.

Bukankah segala sesuatu yang berada di akhir itu baru terasa sangat luar biasa? Senikmat gigitan terakhir sepotong donat kentang, selezat tetesan terakhir segelas susu cokelat, dan sehangat suasana, langit, dan kalimat-kalimat terakhir yang terucap bersamamu menjelang petang.

Kita hanya harus terbiasa pada yang berakhir. Sebiasa kita mengakhiri hari Jumat dengan kurva terbuka ke atas di bibir, dan mengakhiri hari Minggu dengan kurva sebaliknya. Sebiasa kita mengakhiri tangis karena lelah, dan mengakhiri tawa karena perih di perut oleh kontraksi diafragma yang tak sewajarnya. Sebiasa kita mengakhiri musim hujan dengan menyapa matahari pagi yang mengintip di balik jendela, dan mengakhiri kemarau dengan berlari-lari di bawah awan mendung tanpa alas kaki. Dan sebiasa kita mengakhiri setiap detik dengan memandang jarum jam yang berdetak statis, dan mengakhiri novel yang selalu engkau peluk dan baca berulang-ulang sebelum terlelap.

Ya, terbiasa.

Tanpa akhir, kita tidak pernah tahu apa arti kehilangan dan dahsyatnya konsekuensi pertemuan. Yah, perpisahan.

Karena pada dasarnya kita memang harus terbiasa pada yang berakhir. Percayalah, sebuah perpisahan pun pasti memiliki akhir.

4 comments:

Ma'arif said...

waw, itu mksdnya apa kk, krg ngrti
hehe

hanny said...

indeed! :)

wijiraharjo said...

Sebuah perpisahan memiliki akhir = perpisahan sementara = tidak ada perpisahan = tidak ada akhir?

Pertanyaannya sekarang apakah akhir memiliki akhir? Lalu apa awal dar awal?

creamy_cha said...

@maarif: saat kita berpisah dengan seseorang atau sesuatu, percayalah bahwa kita akan mengakhiri perpisahan itu dengan pertemuan berikutnya atau jika ada ketentuan lain, kehilangan itu akan terhapus oleh waktu kok :)

@hanny: inspired by your blog :*

@wiji: tergantung bagaimana engkau mendefinisikannya ji :)