January 7, 2011

Kita Hanya Butuh Bicara :)

Sebenarnya, kadang kita hanya butuh bicara.

Golongan tua vs. golongan muda bukan hanya muncul di saat hari-hari menjelang proklamasi, tapi hingga saat ini dan seterusnya. Karena, pola pikir dan sudut pandang terkadang memang membuat paradigma keduanya berbeda - bukan masalah umur atau kematangan jiwa.

Sometimes older people have never grown up, they just grow old.

Itulah mengapa menjadi tua terkadang mengerikan. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional. Terkadang arogansi dan gengsi kita juga ikut menua , dan sering lupa pada kebahagiaan-kebahagiaan yang sederhana – bahkan mungkin hanya sekedar tawa.

Konflik itu memang bisa terjadi, pada orang tua dan anak misalnya. Sang anak merasa dirinya sudah cukup dewasa dan sudah punya hak untuk memilih, sedangkan sang orang tua merasa anaknya masih bau kencur dan belum punya pemikiran matang untuk memilih. Belum siap untuk tumbuh.

Sebenarnya kita memang hanya butuh bicara. Melatih diri untuk bisa sama-sama mencapai titik keseimbangan berpikir yang sama. Orang tua dan anak duduk bersama, lalu sang orang tua merendahkan suaranya dan mendengarkan pendapat sang anak. Dan sang anak dapat mendengar dengan bijak apa keinginan dan pertimbangan sang orang tua.

Karena pada dasarnya, kita memang butuh kesempatan dan rasa percaya untuk bisa tumbuh. Maka berikanlah, dengan porsi dan waktu yang tepat.

Tumbuh itu hak asasi manusia. Dan kita dapat mewujudkannya dengan bicara – tepatnya saling mendengar.

Setiap orang tua pernah mengalami masa muda, dan tak ingin sesuatu yang buruk menimpa anaknya. Demikian pula sang anak belum pernah mengalami apa yang dirasakan orang tua. Jadi, mari bicara.

Mungkin aku mulai merasakan hal demikian – menjadi orang tua untuk adikku sendiri yang sedang memasuki masa puber. Yah, begitulah. Mulai takut sang adik macam-macam, dan akhirnya terkadang bersikap sangat protektif. Bukan karena arogan atau tak percaya, tapi karena sayang. Dan saat ini aku sadar kalau segala sesuatunya memang bisa berjalan wajar di waktu yang tepat.

Dan, belajar untuk bicara satu sama lain juga butuh proses. Mungkin kita juga baru bisa mewujudkannya di saat sudah cukup dewasa. Seperti aku dan mama sebagai bukti nyatanya yang sedang dan terus belajar untuk sama-sama saling bicara, terbuka, dan mendengar. Hasilnya sungguh luar biasa. Kita semakin saling menyayangi dan percaya satu sama lain.

Jadi yuk mari bicara ^^

3 comments:

Annisa Dwi Paramitha said...

icaaa,,,refollow blogku...:)

Naajmi Maspupa said...

saya, kamu dan kita. selalu perlu untuk bicara

bice posting icha :)

salamhujan

creamy_cha said...

@nisa: iyaaa :)

@naajmi: salam hujan, naajmi :)