January 2, 2011

Random Mind: Takdir

Pernah nggak sih berpikir kalau apa yang kita inginkan dan kita lakukan saat ini semuanya dibatasi satu hal yang namanya TAKDIR?

Ya, pernah. Dan malah jadi sering akhir-akhir ini.

Kadang, rasanya terlalu banyak menuntut sama Allah, dan tidak bersyukur sama yang sudah diberikan saat ini.

Jika kita membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain mungkin memang tidak etis, sangat. Jangan selalu melihat ke atas, kadang-kadang saja, supaya nggak jalan di tempat dan memetik motivasi untuk modal pribadi. Lihat juga ke bawah, supaya bisa terus bersyukur dan bersyukur. Melihat ke samping juga perlu, berpegangan, supaya tak jatuh karena kalut atau takut.

Kita sampai di titik ini, entah kita inginkan atau tidak, rencanakan atau tidak, pasti karena sesuatu. Mungkin kita sedang disuruh belajar, atau dibimbing untuk melangkah menuju sesuatu yang pasti – yang tak pernah kita tahu. Hidup memang penuh kejutan, kan?

Karena indikator kebahagiaan untuk setiap orang juga beda-beda. Aku ingin kebahagiaan yang sederhana, hidup dengan sederhana tapi bermanfaat, penuh visi dan kepedulian. Aku ingin kebahagiaan yang sederhana – bisa bahagia dengan hanya sekedar duduk di samping orang yang aku cintai atau sekedar menikmati nasi panas bersama keluarga dengan sayur seadanya.

Karena hidup tidak selalu mau memberi dengan cuma-cuma. Terkadang kita harus ditempa dengan pengabaian, keteguhan, dan konsistensi agar bisa naik derajatnya. Agar hidup bisa tersenyum memberi apa yang kita impikan, bahkan lebih.

Sesekali sering berpikir bahwa dulu sepertinya aku kurang banyak belajarnya, atau seandainya dulu pola pengasuhanku seperti ini, itu… pasti… pasti… Hey, apa sih yang pasti?! Apa yang terjadi kemarin itu boleh dilihat, tapi jangan disesali. Lakukan apa yang ada di depanmu saat ini.

Dan sering bertanya-tanya pula, sepertinya tidak adil jika kita melihat bagaimana perjuangan dan impian kaum-kaum kecil yang hidup terpencil dan terpinggirkan untuk bisa memperoleh pendidikan tinggi, tak ada kesempatan – tapi, di satu sisi, kaum-kaum borjuis dengan mudahnya menempatkan anak-anaknya di universitas-universitas favorit, kadang hanya untuk urusan gengsi.

Atau, apakah bisa hidup dengan melakukan pekerjaan yang kita cintai seperti Kugy dan Keenan di novel Perahu Kertas yang berani memilih passionnya sebagai profesi? Realistis nggak sih di kehidupan nyata? Kayaknya nggak semudah itu.

Terlalu banyak pertanyaan ya? Terlalu banyak protes ya? Huhu. Baiklah, aku akan mengawali tahun ini dengan senyum, dengan mengetahui apa yang kuinginkan, dan dengan yakin, usaha semampunya, memotivasi diri, dan mengajak semesta berkonspirasi dengan pikiran-pikiran positif. Ibadah, makan yang enak, dan tidur yang nyenyak. Dan, plop!

Tak perlu ada pertanyaan lagi :). Allah sayang banget sama kita, dan tahu apa yang kita butuhkan. Semua tepat pada waktunya.

Kalau masih galau, tepuk-tepuk dada saja. Berbahagia dong hari ini, kalau nggak hari ini, kapan lagi? :D Hehe.

Hmmm, back to basic, pernah nggak sih berpikir kalau apa yang kita inginkan dan kita lakukan saat ini semuanya dibatasi satu hal yang namanya TAKDIR?

Ya, pernah. Dan malah jadi sering akhir-akhir ini. Tapi, sebagai manusia kita hanya disuruh berusaha dan berdoa; kesempatan, rezeki, dan jodoh (oops :P) itu semua hak Allah.

Plop! Bahagia dong :D. Kalau nggak hari ini, kapan lagi? Yay!

*Sorry for my disturbing random mind, hihi*

No comments: