January 2, 2011

Sampah: Oh, No!

Kyaaaaa.

Sebenarnya sudah lama sekali ingin menulis tentang hal ini, tapi keinginan saya langsung meluap-luap setelah melihat tumpukan sampah yang menggerogoti keindahan Kota Tua kemarin dan dilakukan dengan tanpa rasa bersalah oleh, ya kita-kita ini. Sebenarnya nggak perlu heran sih, pemandangan yang sama pasti selalu dijumpai di terminal-terminal saat pulang kantor, di dalam metro mini, di dalam got, di sepanjang kali, dan dimana-mana kayaknya *sigh*. Apalagi, selepas Tahun Baru, waaaah beberapa tempat langsung kotor dengan sampah-sampah plastik dan sisa-sisa terompet. Zzzzz.

Hmmm, sesekali sering pula kita jumpai botol-botol plastik sisa air mineral melayang dari balik kaca mobil dan *jedot* kena kepala orang. Aduh, mas-mas, mbok ya beli tempat sampah buat di mobilnya. Grrr. Atau anak-anak kecil yang buang sampah sisa makanannya di angkot dan itu dilakukan karena mereka memang disuruh sama sang ibu. Hmmm. Saya jadi langsung berhipotesa sepertinya perilaku buang sampah sembarangan itu memang dimulai dari pola pengasuhan, baru deh bergeser ke kesadaran pribadi!

Apa saya yang terlalu sok idealis ya? Tapi, emang nggak suka kan lihat sampah yang menumpuk di sisi-sisi jalan? Kalau jutaan penduduk Jakarta membuang selembar sampah di tempat yang sama, wah mungkin sudah bermeter-meter tingginya. Padahal sampah yang kita keluarkan setiap harinya tidak hanya selembar.

Penduduk DKI Jakarta dapat membangun 1 Candi Borobudur setiap 2 Hari dari tumpukan sampah. Dalam setahun, kita dapat membangun 185 buah Candi Borobudur. Wow… (Volume Candi Borobudur adalah 55.000 M³) *pingsan*

Sadar nggak, para pemulung ini juga sangat banyak jasanya, lho :(


Sayang sekali yaa, menurut saya perilaku buang sampah sembarangan itu berhubungan langsung dengan sikap cinta kebersihan, dengan kepedulian, dan dengan mental. Negara-negara terkotor di dunia selalu diduduki oleh negara-negara berkembang, dan kembali lagi ke masalah mental. Mental Negara berkembang? Hummm. Kesadaran moral kita masih sangat tipis, bahkan cuma buat menyayangi diri sendiri untuk hidup bersih :(

Sayang lho, fasilitas-fasilitas yang sudah dibangun oleh Negara atau beberapa masyarakat tidak dijaga dengan baik, malah dipenuhi sampah atau grafiti yang dicorat-coret dan nggak indah sama sekali (kalau pingin bikin grafiti yang bagus sekalian dong! Hehe.). Mental untuk terus menuntut gini nih yang masih belum bisa berubah, tapi kalau dituntut untuk menjaga, melestarikan, dan nggak merusak kok sepertinya sulit sekali :(

Bagaimana kalau kita beralih melihat sampah ke sungai. Uhuk. Itu sungai ya? Pantas saja banjir lagi, banjir lagi T.T Ambil contoh yuk, Kali Ciliwung misalnya. Dulu, berkat Sungai Ciliwung yang bersih, kota Batavia pernah mendapat julukan “Ratu dari Timur”. Banyak pendatang asing menyanjung tinggi, bahkan menyamakannya dengan kota-kota ternama di Eropa, seperti Venesia di Italia. Sekarang? Uhuk uhuk. Begitu juga dengan Sungai Citarum yang notabene menjadi sumber dari 80% kebutuhan air di Jakarta, kyaaaa, sudah dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia! *pingsan lagi*.


Kalau mau belajar dari Negara-negara maju seperti Singapura atau Negara-negara Eropa sepertinya masih terlalu jauh. Mental kita yang masih harus dibina. Toh, nggak ada gunanya juga sanksi dan peraturan kalau memang dibikin hanya untuk dilanggar. Yah, balik ke diri kita dulu saja, kalau punya sampah sisa permen atau makanan di jalan ya disimpan atau dipegang dulu, ketemu tempat sampah baru dibuang. Setidaknya itu jauh lebih baik daripada menjadikan semua tempat adalah tempat sampah *huks*. Prinsip saya, nggak ada gunanya juga orang itu kaya, cerdas, cantik, ganteng, hebat, kalau nggak peduli sama lingkungan dan doyan buang sampah sembarangan.

Buat Pemerintah DKI Jakarta tolong dong dibanyakin tempat sampahnya terutama di area-area publik, dibanyakin taman-tamannya Pak, Bu, jangan mall doang (lho, ga nyambung, kalau ini keinginan pribadi :P), dan dibangun pelan-pelan mental kami ini ya Pak, Bu, supaya nggak terus-terusan kebanjiran dan nggak dirusak sama sampah. Semoga kita, anak-anak bangsa, bisa bikin teknologi pengolah sampah yang ramah lingkungan, dan setidaknya mampu membangun generasi yang benci lihat sampah numpuk di jalan. Okeee?

Hidup bersih itu enak lho. Mau kan? :)

*fakta-fakta dari post di atas dikutip dari sini dan sini.

No comments: