January 29, 2011

Surat #2: Untuk Kamu, ya, Diriku Sendiri

Dear kamu,

Ya kamu. Kamu yang aku maksud itu aku, ya aku, diriku sendiri. Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja sepertinya. Agak aneh ya menyapa diri sendiri seperti ini? Tidak aneh, hanya saja kamu memang tak terbiasa. Bahkan sudah lebih dari 20 tahun, aku tak mengenalmu dengan baik dan memang kurang menghargaimu dengan selayaknya. Selalu saja merasa ada yang kurang. Padahal kamu itu istimewa, hanya saja sering tak percaya dan sering membandingkan diri dengan orang lain.

Hai kamu, aku tahu, terlalu banyak kerumitan yang menghinggapi pikiranmu. Menangis sejenak tak apa, tapi janji, harus diam-diam. Tapi tersenyum itu jauh lebih baik, karena Allah menyayangimu, sangat, dan mereka juga menyayangimu. Hanya saja dengan cara mereka sendiri. Lalu kenapa aku tak berusaha lebih menyayangimu juga?

Saat ini, biarkanlah aku menulis surat ini untukmu dan mengetuk pintu hatimu. Ya, juga, yang kumaksud itu pintu hatiku sendiri. Tak usahlah terus bertanya kenapa dan kenapa. Karena kamu hanya akan membuat dirimu terluka. Tetap berjuang, sayang, dan bersabar. Serta bersyukur, itu yang utama. Agar hatimu tenang, tumbuh, karena hidup sedang mengajarkanmu arti kedewasaan.

Aku tahu jika kamu sangat rentan dengan kesepian, tekanan, atau kerinduan. Tenanglah, terkadang hal-hal itu akan membuat kita kuat. Teruskan prinsipmu untuk tidak mengeluh dan tidak bergantung pada orang lain. Untuk terus membahagiakan orang-orang yang kamu cintai. Dan untuk tetap menjadi diri sendiri. Itu yang utama.

Dan janganlah terus menerus selalu merasa bersalah. Rasa bersalah itu memang perlu, tapi jika itu bukan milikmu, jangan biarkan dirimu tenggelam dalam itu. Semua tidak harus berjalan sempurna, dan kau tidak selalu bisa memuaskan semua orang.

Aku lupa jika aku jarang mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih buat segala sesuatunya, buat semangatmu yang kadang patah tapi bisa bangkit lagi dan buat daya tahanmu yang semakin baik semakin harinya. Allah tidak pernah meninggalkanmu, Dia sangat menyayangimu. Sangat.

Aku berbahagia padamu, ya, bahagia menjadi diriku sendiri. Pada akhirnya, terima kasih telah mengajarkanku sampai di titik ini. Aku akan terus berusaha untuk menemukanmu dan mencintaimu, dan terus menuntunmu untuk melangkah menuju anak tangga berikutnya setiap hari. Kamu itu aku, ya diriku sendiri.

No comments: