February 19, 2011

Paradoks

Sepi dan sendirian itu berbeda.


Mungkin, ada yang menyukai kedua-duanya, ada pula yang sengaja menciptakannya, dan ada yang memang tak menginginkan keberadaannya, lalu membenci kedua-duanya.

Demikian pula denganku.

Aku tak suka sepi, tapi aku suka sendirian – dengan pengecualian. Karena kedua komponen itu bukanlah konstanta, tergantung variabel yang mempengaruhinya, maka pernyataan itu tak berlaku setiap waktu. Ya, hanya, kadang-kadang.

Sepi adalah keadaan di mana aku tak bisa berdamai dengan pikiranku. Paradoks. Saat kau berada dalam keramaian, walau tak sendirian, mungkin kau merasa sepi karena pikiranmu mungkin terus bergumam, “ini bukan tempatku…” atau “ini bukan aku” atau “aku ingin cepat-cepat keluar dari sini” dan masih banyak atau-atau yang lainnya.

Sedangkan sendirian adalah keadaan di mana aku sebagai jiwa yang bebas yang seirama dengan pikiranku – tak bergantung ataupun bersama yang lain yang bisa kauandalkan saat itu, tapi kau bisa mengandalkan dirimu, dan kau menyukainya. Aku suka berada di rumah sendirian, nonton sendirian, makan sendirian, jalan-jalan sendirian, dan melakukan segala sesuatunya sendirian lalu bersibuk-sibuk ria dengan pikiranku. Produktif, mengisi waktu, bukan menghabiskan waktu. Ya, yang paling penting, aku menyukai keadaan itu. Sibuk, bahagia, hingga lupa dengan rasa sepi.

Namun, lagi-lagi, kedua komponen itu juga hanya berlaku kadang-kadang.

Sendirian tidak selamanya menyenangkan. Akan muncul satu titik dimana kau malah merasa sepi – butuh orang lain, teman sebaya, ataupun orang yang kau cinta, dan orang yang bisa kau andalkan – untuk bersamamu, berbagi makanan bersama, menggandeng tangannya, dan meminjamkan telinganya lalu menepuk bahumu seraya berucap “Kamu hebat!” atau “Kamu akan baik-baik saja!”

Dan, sebaliknya, sepi juga tidak selalu menyedihkan. Kau butuh sepi untuk bisa mengenal dirimu ataupun berperang dengan zona nyaman lalu bangkit dengan kemenangan, “Aku bisa mengatasinya. Aku baik-baik saja”

Lalu, bagaimana perasaanku saat ini?


Ya, aku sedang sendirian, namun aku tak merasa sepi. Masih ada film-film yang bisa ditonton, ide-ide yang bisa ditulis, isu-isu sosial dan politik yang bisa dikritik, buku-buku yang bisa dibaca, lagu yang bisa didengar, akhir pekan yang masih panjang, dan masih banyak daftar dan-dan-dan yang lain.

Tapi, tetap saja, tetap saja. Aku manusia yang dianugerahi rasa bosan – dan ujung-ujungnya, sepi.


It’s true.
Without you, I’m still me.
But with you, I’m better me.

No comments: