February 1, 2011

Refleksi: Penjara Batin

“Aku hanya ingin minta maaf. Aku hanya ingin. Jika kau tanyakan untuk apa, aku sungguh tak tahu”

Dan aku bisa menyimpulkan bahwa rasa bersalah adalah pembunuh berdarah dingin untuk batin perempuan. Kenapa demikian? Karena tak terdefinisi dan tak bisa diprediksi bagaimana dia akan datang.


Hai, rasa bersalah, tolonglah jangan bunuh aku. Jika satu, dua, tiga menembakkan senjata menerobos pintu rasa bersalahku, aku menjadi sangat lemah. Ya, lemah.

Perempuan – terpenjara oleh perasaan dan kerumitan. Kadang kau lihat dia begitu bisu dan di detik berikutnya dia kembali riang. Dia hanya perlu diyakinkan, bukan sekali – tapi berulang-ulang. Bukan sering, hanya sesekali.