February 1, 2011

Titik

Ya, akan ada suatu titik dimana kau tidak akan menganggap kisah-kisah romansa di novel-novel fiksi itu hanya sekedar letupan kacang goreng, kelap-kelip lampu malam pun tak bisa lagi mencandaimu, dan lagu-lagu nina bobo patah hati dan berdarah itu pun menjadi makanan lezat untuk telingamu.

Dan, kau pun mendadak menyukai pertanyaan-pertanyaan sederhana yang tanpa bosan kau utarakan berulang-ulang di saat yang tepat ataupun di jam-jam tak masuk akal. “Sudah makan?” “Sudah tidur?” Bukan lagi menjadi tuntutan, tapi kebiasaan, harus, ingin sekali terus menanyakan itu. Selalu penasaran ingin tahu kabar dan keadaanmu.

Lalu, sesekali kau mencoba hilang. Marah. Cemburu. Tapi, kau menyerah, dan keluar lagi dari ruang persembunyianmu, melukis jejakmu sendiri. Yang ingin dicari malah mencari-cari.


Anehnya, kau menjadi tergila-gila pada hujan. Suka sekaligus benci. Karena hujan melekatkanmu pada kerinduan dan kenangan. Dan hujan menganalogikan pada sesuatu yang kau punya dan tak ingin kau tunjukkan: air mata.

Pada akhirnya, kau seperti memiliki toples dalam pikiranmu untuk mengumpulkan sekeping demi sekeping ingatan yang kau punya untuk kau buka di saat kau butuh hangat, merah, dan baunya. Lalu mendadak kau pun baik-baik saja.

Titik.

No comments: