March 24, 2011

Sebuah Hanya

Kau: “Apa yang sedang kau lihat?”

Aku: “Aku melihat huruf V”

Kau menggeleng sambil tertawa pelan. Lalu, kau menuntunku untuk menegakkan posisi dudukku – fokus ke jendela yang berpendar dengan pola-pola yang dibentuk oleh tetes hujan.


Kau: “Sesekali kau harus berani keluar dari pikiranmu dan berani melihat apa yang nyata”

Aku: “Aku masih melihat huruf V”

Kau: “Itu bukan huruf V. Itu huruf A.

Aku: “Bagaimana mungkin?”

Kau: “Kau dan aku hanya melihat dengan cara yang berbeda. Sekarang tegakkan wajahmu, sederhanakan pandanganmu dan lihat dengan jelas, bukankah ada pola-pola transparan yang terbentuk di tengahnya? Itulah pembedanya, dan itu huruf A”

Aku: “Aku lebih suka melihat huruf V daripada A, karena V semakin dekat pada Z. Semakin dekat pada akhir”

Kau: “Hingga kau lupa bahwa sebenarnya kau bahkan belum memulai sedikitpun, kau masih berada di A”

Aku diam saja.

Kau: “Lalu kau mengabaikan garis di tengahnya, mematahkannya, memutar huruf A dengan paksa – dan kau mendapatkan V”

Kau memelukku.


Kau: “Ini hanya permainan pikiranmu. Kau harus belajar bersabar – karena inilah hidup – menikmati apa yang nyata. Dan juga - yang hanya...”

Aku menangis. Lebih deras dari hujan di luar jendela.

2 comments:

Mufti said...

menggarisbawahi makna sabar dalam berbagai konteks. inspirasi baik

creamy_cha said...

@mas mufti: bukan hanya sabar, juga mau menerima, karena inilah hidup, tak selalu tepat dengan yang kita duga :)