March 14, 2011

Perca

Tentu saja, aku risau.

Jika kau anggap bahwa aku sedemikian kuat hingga tak pernah terlihat gelisah dengan yang sedang kugenggam erat – kau salah.

Ini bukan pasir putih yang bisa kutahan dengan buku-buku jari atau kumasukkan ke dalam mangkuk berwarna pelangi dengan perahu kertas di atasnya. Bukan. Yang sedang kupegang ini adalah sebuah kain perca bernama percaya.

Tentu saja, aku iri.

Jika kau pikir bahwa aku sudah terlalu biasa dengan yang namanya sendiri – kau pernah benar. Ya, pernah, sebelum aku menjadi gadis kecil manja seperti sekarang, penyuka bintang, pembenci malam dan gemar melompat-lompat untuk membuat hati diam sejenak, tak berteriak.

Layaknya gerimis di musim penghujan yang bisa setiap waktu menghantarkan rindunya pada tanah, aku iri.

Dan aku tumbuh menjadi seorang penyembunyi. Hingga kain perca yang sedang kuremas ini pun akan kusembunyikan dalam saku yang terdalam. Mungkin akan kubutuhkan untuk menghapus air mata jika saatnya tiba.


Atau kujahit menjadi boneka penangkal hujan…


Karena hujan membuatku rindu. Kamu.

No comments: