March 21, 2011

Pulih

Menurutku, hal yang paling tidak mengenakkan dalam hidup ini adalah saat kamu dipaksa berada dalam kondisi yang tanpa pilihan.


Pilihan – itulah yang membuatmu ada. Masa depanmu akan seperti apa, atau apa yang akan kau santap hari ini semua itu bergantung pada pilihanmu.

Kau tahu kenapa manusia yang bersalah itu dipenjara? Yang dipenjarakan adalah haknya untuk memilih akan kemana hidupnya, dan itulah yang menyakitkan.

Pilihanmu yang membuatmu berharga – secara bebas dan bertanggung jawab menjadi manusia mandiri dan dewasa seutuhnya – tanpa dihantui rasa takut. Pilihan adalah hak pribadi, dan konsekuensinya juga tanggung jawab pribadimu. Dan menurutku, tak ada yang perlu disesali selama itu pilihanmu, karena penyesalan terberat adalah saat kau tak bisa melakukan sesuatu yang menjadi pilihanmu.

Lalu bagaimana caranya agar kau tetap baik- baik saja?

Mulailah berdamai dengan ego, ingat yang baik-baik yang kau telah jalani saat ini. Dan tepuk-tepuk sang hati setiap pagi, “Aku bisa. Aku bisa menghadapi ini”

Sesekali tak apa memberontak, dan lakukan diam-diam – selama menurutmu itu benar – karena kau itu manusia muda, masih ingin mencoba dan meraih kebahagiaan dengan caranya sendiri.

Kesedihan hati adalah pertanda dia mulai dewasa dan sedang dalam perjuangan keluar dari cangkang yang memenjarakannya, perlahan-lahan.

Life is easier when you stop complaining. It does true, but not always be.

Karena hati yang mulai tumbuh adalah saat dia mulai berani mempertanyakan apa yang sedang dia jalani. Bukanlah hal yang bijak jika kau membandingkan kestabilan emosi ataupun pengalaman hidup seseorang dengan usia 20an tahun dengan yang berusia 40an tahun. Karena semua itu ada waktunya, tak terburu-buru, semua belajar pada fasenya. Jadi tak usah dipaksakan.

Hati yang dewasa tak perlu buru-buru pulih karena dia mencintai proses. Dia hanya perlu disembuhkan setiap hari hingga saat kebebasannya tiba.


Jadi kuncinya: Sabar. Syukur. Berkomitmen diam-diam. Perjuangkan terus dengan sesedikit mungkin menyakiti orang lain dan terutama dirimu sendiri. Percaya saja: Allah tak mungkin tidak mendengar sedihmu, harapanmu. Dia mencintaimu lebih dari yang kau tahu.

Jadi hati – mari berkonspirasi, “Kamu bisa kok, kamu bisa!”

No comments: