March 9, 2011

Relung

Masih ada semangkuk penuh kenangan yang kau peluk erat-erat. Cobalah lepaskan, walaupun aku tahu bahwa belajar mencintai (lagi) itu sulit. Sangat.

Pada suatu masa dan suatu ketika.
Kau harus tahu bahwa gelombang dan alam semesta tak pernah kehabisan alasan untuk berkonspirasi. Kau bertemu orang lain, jatuh cinta lagi, atau putus lagi. Lalu bertemu orang lain lagi. Belajar dicintai lagi.


Pada suatu masa dan suatu ketika.
Kau mempertanyakan semua hal yang telah kau jalani. Lalu memilih berhenti. Dan kekhawatiranmu layaknya benalu. Ini kesalahan, tapi sang pohon tak pernah menyuruhnya pergi.

Atau walaupun mangkuk kenanganmu hanya terisi beberapa tetes, kau tak kunjung melepaskan. Malah kau bersembunyi di balik bayangan.

Pada suatu masa dan suatu ketika.
Kau telah bersama yang lain, tapi jari yang kau genggam, mata yang kau lihat, dan kata-kata yang kau dengar – adalah miliknya – seonggok serpihan yang masih tersimpan di sudut lacimu.

Itu hanya sebuah laci. Kau sedang belajar mendaki lagi, jika kau dipersilakan tinggal, kusarankan kau memilih relung bukan palung, apalagi laci. Palung itu gelap, tapi relung – dekat dengan tulang rusuk, hangat. Kau akan aman di sana.

I know that everyone has the man or maybe woman who can’t be moved…
But the real one is much better.

*dedicated to everyone who’s still shadowed by the one who can’t be moved*

No comments: