March 25, 2011

Surat Cinta Teristimewa: Untuk Abah

Dear Abah,

Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertatap muka, ya kira-kira sudah 5 bulan – tepatnya beberapa hari setelah Abah mendampingiku saat wisuda. Juga, mendengar suaramu tidak setiap hari, saat kita bicara, kau tak tahan berlama-lama – karena terlalu rindu – dan berulang-ulang kau mempertanyakan hal-hal yang sama: “Icha sehat?”, “Gimana kerjaannya?” atau merespon keluhku dengan kata-kata mujarab saat aku mulai gelisah: “Sabar-sabar aja ya” atau “Abaikan. Tutup aja telinganya”.

Abah, engkau memang tidak banyak berubah – masih sangat sederhana dan bersahaja. Masih setia dengan sepeda motor tua yang sangat bersejarah mengantarkankanku dari mulai Sekolah Dasar hingga hari-hari pertama kuliah sebelum aku berangkat ke Jakarta, serta yang menemani kita menikmati malam Minggu sekedar untuk membeli jagung bakar dan duduk-duduk di depan air mancur kota. T-shirt putih yang itu-itu lagi, celana panjang sebetis, dan sandal jepit selalu menjadi ciri khasmu – dengan tas sandang hitam yang penuh transistor, resistor, solder dan obeng berbagai rupa; kau pun pergi bekerja. Tak tentu. Kadang pagi, kadang siang, atau hingga larut malam – tergantung berapa rumah yang televisinya rusak hari ini dan bisa kau kunjungi; atau kau di rumah saja memperbaiki peralatan-peralatan elektronik yang dititipkan di mejamu dan mengembalikannya sesuai janji dengan ongkos perbaikan yang wajar atau bahkan tidak dibayar.

Aku sedang sangat merindukanmu, Abah. Merindukan percakapan kita di halaman rumah sambil memandang bintang-bintang, merindukan cemilan sore hari berupa roti cokelat yang selalu sempat kau belikan, dan merindukan helaan napasmu, kerut di dahimu, kebiasaan lupa meletakkan kacamata, dompet, dan kunci sepeda motor, juga menertawakan Mama yang sering ngambek atau ngomel karena kita yang sulit diatur.

Hari ini – 25 Maret 2011 – usiamu telah mencapai 52 tahun. Seperti biasa, kau tak pernah ingat ulang tahunmu sendiri. Tapi kau tak pernah melupakan kami – yang hidup dari aliran keringat dan ketegangan sarafmu, hingga aku bisa menjadi seperti ini, saat ini, dalam langkah yang masih panjang untuk membahagiakanmu. Aku sungguh ingin bertemu – semoga Lebaran kali ini, kita bisa kumpul bersama-sama lagi, makan kue nastar kesukaanmu, atau meramu lontong di malam takbiran sambil bersih-bersih rumah sampai larut malam.

Semoga Allah selalu merahmati setiap hela napas dan denyut nadimu, setiap harapan yang kau hanturkan untukku, dan setiap kebahagiaan yang kau torehkan untuk aku, Mama, dan adikku. Terima kasih telah mengajarkanku kenikmatan bekerja keras, untuk tidak menghiraukan tajamnya lidah orang lain, dan menjadi apa adanya – juga menopangku di saat aku kehilangan semangat dan akal sehat. Untuk hati-hati yang pernah membuat kita terluka, semoga tak perlu membuat kita sedih, karena kita bersama, bersama dalam jalan yang benar. Dan bersama untuk membuktikan bahwa kita bisa bangkit – bahwa aku bisa membawa kalian bangkit.

Aku menyayangimu Abah, dan untuk setiap detik hidupku, aku berterima kasih padamu. Aku bersyukur karena Mama telah jatuh cinta padamu, karena cintamu terhadap anak-anakmu sangat luar biasa – sederhana, tak terkata, tapi begitu nyata.


Tunggu aku pulang ya Abah – tak lama lagi, kita bisa duduk menyantap makan malam di meja yang sama. Mohon doanya selalu untuk anakmu.


Salam hormat penuh cinta dan takjub,



Anandamu

3 comments:

Geafry Necolsen said...

kalau dah nyampe rumah salam buat abahnya ya..
blognya cakep.. font-nya juga pas, bener2 kayak selembar surat

anyway aku follow blognya, follback ya kalo ada waktu sambil mampir.. thanks..

Mufti said...

Bener terharu begitu tingkat kebatinan seorang anak dg ortu, kesederahaan seorang ayah..meski sebagian haknya rela diberikan untuk anaknya....namun tersirat ada harta yang terinvestasikan yang jauh lebih berguna....semoga senantiasa terjaga silaturohmi dg abah. sedih..sedih karena mngkn tidak terasa waktu berjalan saya jg akan menjadi sosok spt abah Icha...jauh dari anak2 yang tersayang T_T

creamy_cha said...

@geafry: terima kasih, udah saya sampaikan salamnya :)

@mas mufti: menjadi ayah adalah hal yang luar biasa. Berjuang ya mas mufti :)