April 18, 2011

Buta Arah

Ternyata saya mengalami ‘buta arah’ yang cukup paraaah.


Buta arah adalah kondisi dimana seseorang kesulitan menghapal jalan, menentukan arah, dengan gejala kronis sering nyasar, dan walaupun sudah pernah ke tempat itu sekali atau berkali-kali, tetap saja nyasaaar.

Berdasarkan buku Why Men Don’t Listen and Women Can't Read Maps, disebutkan bahwa:
Pada umumnya wanita memiliki kemampuan ruang yang terbatas.

Dan saya salah satunya
.

Kemampuan ruang saya lemah sekali, oleh karena itu saya tidak pernah bisa menjadi penunjuk arah yang baik (*sigh). Dan, mungkin, itu alasannya saya sering kemana-mana sendirian karena saya tidak perlu melibatkan orang lain menjadi korban ‘kenyasaran’ saya, sekalian saya bisa berlatih untuk memahami arah dan jalan tanpa bantuan orang lain. Walaupun konsekuensinya harus tanya sana-sini, muter-muter di jalan yang sama, atau sesekali pingin teriak “aaaaaah, ini dimanaaa?”

Wanita tidak memiliki kemampuan ruang yang baik karena mereka mengembangkan keterampilan berburu sedikit saja dibandingkan pria.

Ya, memang benar, ada hubungannya dengan nenek moyang kita di masa lalu. Kalau dianalogikan dengan masa kecil saya, sejak kecil saya adalah anak rumahan sejati, yang kemana-mana diantar jemput dan tidak diizinkan pergi ke luar rumah sendirian. Jadi, jalan yang saya tahu adalah jalan menuju rumah-sekolah, atau rumah-mall dan masjid dekat rumah yang hanya beberapa meter. Bahkan, saya tidak tahu bagaimana cara menyeberang, dan angkot ini jurusan apa, atau jurusan X dan Y itu dimanaaaa???

Parahnya, efek buruk dari menjadi gadis rumahan tersebut menempel erat sampai sekarang. Kalau saya pulang ke Medan, mohon maaf sekaliiii, saya nggak tahu jalan kemana-mana. Jadi tetap masih dianter jemput Abah, atau gampangnya naik becak motor, langsung sampai ke tempat tujuan *sigh* *memalukan*

Syukurlah, sejak di Jakarta, buta arah saya semakin membaik. Saya sudah berani berkelana ke tempat-tempat yang jauh, tahu ini dimana dan itu dimana, bisa baca jurusan di angkot, walaupun masih sering nyasar. Dan, saya selalu merasa bersalah karena tidak bisa menjadi penunjuk arah yang baik. Jadi, buat yang saya sering bikin nyasar dan sebel (sebut saja pacar saya) karena saya hanya bisa ngomong ‘emmm’, ‘ehhh’, ‘kayaknya lewat situ deh’, dan situasi kebingungan ini sangat menyiksaaa, huhuhu.

Nah, yang saya lakukan untuk mengobati buta arah saya ini adalah:

1. Bereksperimen. Artinya, berani nyasar atau berani mencoba tempat-tempat baru, dan setelah mencoba sekali atau dua kali, pasti sudah paham arah yang benar dan paling dekat itu lewat mana.


2. Karena saya orangnya visual, maka saya harus menetapkan hint tertentu untuk mempermudah saya mengingat jalan. Misalnya, kalau mau ke rumah si A, saya harus belok jalan ini yang di sebelah kirinya ada pohon besar, atau ada rumah warna merah, atau ada bengkel. Masalahnya, kalau pohonnya sudah ditebang, warna catnya sudah ganti, atau bengkelnya sudah pindah, baru deh bingung lagi. Hahaha.

3. Dan kalau saya sedang di angkot, naik ojek, atau naik taksi, biasanya saya harus melihat kiri-kanan dan lagi-lagi memberi tanda agar dapat mengingat. Jadi seandainya saya nyasar atau mau ke tempat yang sama, saya nggak ragu lagi karena saya ingat saya pernah lewat sini dan saya bisa tepuk-tepuk dada, “Beneeer, ini arahnya!”

Karena saya sudah tahu kelemahan saya ini, saya bersyukur kalau saya dulu tidak masuk dan meneruskan jurusan teknik. Ya, itu alasannya, kemampuan ruang saya sangat tidak bisa diandalkan *hukshuks*

Tapi percayalah, di setiap kelemahan pasti ada kelebihan, saudara-saudara :) :)

Dan, pastinya, saya akan terus berusaha meringankan ‘kebutaarahan’ saya ini. Lalu berkomitmen untuk belajar naik sepeda atau naik motor (efek buruk anak rumahan yang lain) lalu belajar mengemudi (mimpi, hehe) karena tidak seumur hidup saya bisa dibonceng atau naik kendaraan umum teruuuus.

Kan mau jadi wanita super yang mandiri, hehe :D :D

7 comments:

Fiqah Faradhiba said...

jadi ceritanya icha ga bisa naek sepeda dan motor juga nih? hahahaha... *toss!*

kita emang terlahir untuk punya supir pribadi kelak, cha..
hahahaha..
*tetep mikir positif (lebih tepatnya ngimpi) :P

*ah iya, ini link blogku yg baru, yg lama rusak, ga bisa dipake lagi :(((*

creamy_cha said...

iyaa fiq, ga bisa naik sepeda dan motor. Fiqah juga ya? Ada temennya, hohoho :D

Amiiin, tapi tetep pingin belajar, huhu. Gapapalah yaa ngimpi :P

Sippooo, udah diganti linknya :D

Selvi Mulyani said...

ha ha...untung aja buta arah gak termasuk ke dalam syarat lulus tes CPNS -_-

Rediningrum Setyarini said...

hai, saya disorientasi arah juga. main ke sini ya: www.jembatan-buatan.blogspot.co.id

Anonymous said...

Hmmm saya buta arahhh dh parah bukan g inget jalannya tpi ada rasa ragu2 gitu tau kanan tpi blok kiri ...ampe saya g ngerti sendiri.

Ina Rosiana said...

waaah....aku pikir aku ini aneh karena susah sekali utk mengingat jalan dan arah ke suatu tempat, kecuali tempat itu sudah kudatangi berkali-kali, kayak tempat kerja dan kampus. Sering jadi olok2an teman2 karena setiap bercerita mengenai suatu tempat kemudan ditanya itu dimana arahnya suka bingung.
Aku juga sering menandai suatu gedung atau ciri2 tertentu dari suatu daerah untuk mempermudah mengingat arah tujuan suatu tempat.

Aku juga ga tau arah mata angin, apalagi klo sudah siang. Klo pagi dan sore masih kelihatan dimana mataharinya jadi bisa nentuin mana timur mana barat.

Klo pergi sendiri sering nyasar, apalagi klo pergi ke suatu tempat start point nya beda dengan sebelumnya, pasti dech lsg panik..hehehe....

@chabadres said...

hehehe ternyata bukan saya sendiri, tapi alhamdulillah sekarang sudah terbantu berkat google maps