April 11, 2011

Kue Lapis

Ini seni merindu.


Kau harus mahir – layaknya memanggang kue lapis.

***

Satu lapis.

Dua lapis.

Tiga lapis.

Sesendok demi sesendok. Kau tambah selapis lagi dengan hikmat – tepat setelah lapis yang di bawahnya menjadi padat. Ada coklat, juga putih saling bergantian dengan aroma kayu manis mengepul dari balik pemanggang. Harap-harap cemas, semoga kuemu akan tampil rupawan.

Ini sudah lapis entah kesekian.

Cetakan kue lapismu sudah sejajar dengan lapisan yang teratas, dan sungguh tak sepadan dengan adonan di dalam baskom yang masih melimpah karena kau siapkan berlebihan. "Tapi ini sudah sesuai takaran!" jeritmu mengelak kenyataan.

Ini adalah lapisan terakhir – harusnya. Dan kau langsung bisa menyantapnya dalam hangat atau menghiasnya dengan taburan kismis, keju, dan potongan kacang. Tapi, kau tumpahkan lagi, selapis. Selapis. Selapis. Kau tak mau tahu. Padahal adonan itu telah berceceran keluar dari cetakanmu, membanjiri pemanggangmu, dan mengotori dapurmu.

Dan, kue lapismu rusak, sayang sekali. Lapisannya tak lagi berarti. Kini kau jadi benci.

***

Hey, sudah berapa kali aku bicara rindu?

Entahlah. Bagiku, rindu itu ibarat membuat kue lapis. Kau harus tahu takarannya. Selapis dan selapis hingga sampai di titik dimana kau hanya harus menahan. Karena komposisi sabar dan rindu itu – tak perlu kau ragu – selalu berujung keindahan.


Bahkan, tangismu dalam ketenangan itu juga keindahan.

No comments: