April 20, 2011

Musim Semi

"Just because it didn't last forever doesn't mean it wasn't worth it".


Ini musim semi. Sekali lagi, dia datang tepat waktu. Mungkin baru kemarin, atau minggu lalu, tapi tak mengapa – tak pernah terlalu cepat untukku – karena menunggu rasanya lebih menyiksa dari itu.

Baiklah, mari kita berjalan-jalan. Karena ini musim semi, maka izinkanlah aku untuk bertingkah lima atau sepuluh tahun lebih muda dari yang sekarang. Akan kukenakan rok merah muda terbaikku yang bergoyang-goyang mengiringi angin senja dan lompatan-lompatanku di sepanjang jalan setapak yang penuh dengan bayi-bayi bunga. Lalu kau membelikanku sebatang lolipop berwarna kuning cemerlang – aku tak mau, tapi kau memaksa. Ini musim semi, jangan khawatir, harganya jadi tak terlalu mahal. Dan jangan lupa menyikat gigimu, katamu. Tentu, jawabku.

Semua makhluk merindukan musim semi. Dirindukan – karena tak bisa dinikmati setiap hari. Ini akibat dari revolusi, kata Bumi. Tapi Bumi, musim semiku bukan karena matahari, tanggapku saat itu. Jadi janganlah cemburu. Dia pun tersenyum malu-malu, tak sadar disaksikan oleh Venus dan Mars, juga bulan yang membiru.

Kuceritakan pada Bumi bahwa aku dan kau punya sumbu rotasi yang berbeda – bergerak di poros yang tetap dan mengikat tak memaksa – dengan sudut putaran yang tak pernah sama. Kadang satu hari terasa sesingkat mengunyah permen karet, atau selama perjalanan dari utara ke selatan. Tapi ini musim semi, dan waktu sering berkhianat. Aku tak suka.

Aku dan kau punya revolusinya sendiri. Kita saling mengikuti – kadang kau tak tampak, dan aku surut. Kemudian aku menyendiri, dan malah kau yang pasang. Lalu kita saling mencari, tarik-menarik sambil memproduksi medan magnet dengan gaya yang tak dapat dihitung secara teori. Dan aku pun menangis, tak apa katamu. Karena ini musim semi, tanah sering basah oleh hujan – maka pipiku pun boleh basah.

Demi bulan jingga di langit violet yang masih setia di ufuk timur saat matahari merangkak malu-malu, ini musim semi. Tapi tak setiap hari. Esoknya mungkin kau temui musim panas hebat yang membuatku tak ingin bertemu, atau musim dingin yang memaksaku menyukai jaket berbulu – bukan dekapanmu.


Hey, nikmati saja hari ini. Masih ada beberapa menit sebelum gelap. Ini musim semi, dan esok tak pasti – entah kau yang meninggalkan atau aku yang pergi, juga tak pasti. Karena ini musim semi, maka aku tak ingin merasa kehilangan – seperti pada musim gugur.

Jadi, boleh kita berjalan-jalan lagi?

1 comment:

Andy A.Fairussalam said...

Assalamu'alaikum, blogwalking n salam kenal ^_^
Aku follow blog kamu, follow balik ya ke AndyOnline.Net
jangan lupa buat kamu yang suka corat-coret di Blog, yuk gabung di BLOOFERS (Blog Of Friendship)