April 14, 2011

Out of On :)

Hilang dari peredaran itu terkadang menyenangkan.


Dua minggu diklat dengan handphone rusak – memaksa saya tidak bisa online untuk terhubung dengan jejaring sosial atau sesekali mengintip tentang apa yang terjadi di dunia beberapa menit sekali – rasanya aneh pada awalnya, seperti hilang dari peradaban (halah), tapi ternyata saya baik-baik saja dan saya menikmatinya :D

Jejaring sosial memang membuat kita mudah berhubungan dengan teman atau kerabat – yang dekat bisa menjauh, yang jauh bisa mendekat. Efisien memang, tapi kita tetap membutuhkan interaksi langsung – dan ini sebuah keterampilan. Kadang, orang-orang yang terlihat sangat akrab di dunia maya tampak sangat kaku dan bahkan tak saling menyapa di dunia nyata.

Saya juga mulai membatasi update status – bahkan sudah jarang sekali, alasannya status membuat orang lebih mudah mengeluh, sombong, berbangga diri, ataupun menimbulkan konflik. Lagipula nggak seru juga kan kalau orang tahu terlalu banyak tentang hal-hal yang terjadi dalam hidup kita?

Tapi, saya tetap jatuh cinta sama twitter karena sudah bisa jadi pengganti televisi – yang akhir-akhir ini sangat lame – dan membuat kita sangat update terhadap dinamika dunia hanya lewat satu layar berukuran beberapa sentimeter :D tapi penggunaan twitter juga harus paham etika – ya pencitraan itu kadang penting – karena dunia 140 karakter itu digenggam oleh berjuta-juta kepala dengan pemikiran yang berbeda.

Yap, hilang dari peredaran juga jangan lama-lama, karena saya tetap harus berkunjung ke taman ini, melihat perkembangan visitors, mengunjungi rumah seribu kisah teman-teman yang lain, atau menambah benih baru di blog ini. Dan buat saya, blogging ataupun blogwalking adalah salah satu media pemulihan jiwa.

Dan, efek paling luar biasa untuk hilang dari peredaran adalah membiasakan diri untuk tidak bolak-balik ngecheck handphone sekedar lihat mention, notification, ataupun memberitahukan apa yang saya makan, saya inginkan, atau saya lakukan saat ini berulang-ulang.

Lalu, kamu akan tahu siapa yang benar-benar merindukanmu atau peduli terhadap kabarmu karena tidak melihat namamu berkeliaran di jejaring-jejaring sosial itu :)

Saya tetap tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup berpuluh-puluh tahun yang lalu yakni saat telpon masih sangat mahal, sms belum ada, internet belum dikenal, dan yang bisa dilakukan hanyalah menulis surat. Wow, tabungan rindunya pasti sudah penuh sekali, hihi.

*okay, inti dari tulisan ini adalah: cepatlah turun rapeeel supaya bisa beli handphone baru :s *

No comments: