April 19, 2011

Sepercik Kisah dari Jalanan #3

Curhatan ini terinspirasi dari kisah pulang kantor tadi malam.

Hujan selalu membuat jalanan Jakarta jadi liar. Lalu sang hujan pun memanggil rekan seperjuangannya bernama macet. Banjir. Panik. Dan mereka.


Mereka –para penghuni jalanan yang memadati ibukota– mulai dari pengamen cilik, pengemis, ojek payung, pemberi jasa bersih-bersih kaca mobil dadakan, dan semuanya tumpah ruah mencari rezeki turun ke jalan.

Seperti biasa, pemandangan menuju terminal Kampung Melayu tidak pernah menyenangkan – terutama di saat hujan – sampah-sampah menumpuk menggenangi bahu jalan. Lalu para pengamen masuk nyelonong ke angkot; ada yang memang niat ngamen dan layak diberi, ada pula yang menyanyikan lagu karangan sendiri yang liriknya hanya satu baris lalu diulang-ulang sekedar jual rasa kasihan, dan ada juga yang berorasi memaksa para penumpang untuk minta ‘dihargai ancaman dan teriakannya’ agar diberi sekeping uang logam atau selembar ribuan. Jujur saja, untuk yang terakhir ini sangat menyebalkan karena membuat takut semua penumpang termasuk saya yang berada tepat di sebelah bocah itu! Huff.

Sesampai di terminal, angkot saya sudah diserbu oleh segerombolan anak tanpa alas kaki yang menawarkan jasa ojek payung hingga para penumpang kesulitan untuk turun dari angkot.

Oh, dear, that’s life! :(

Sesegera mungkin saya berjalan keluar dari terminal hingga mendekati jembatan penyeberangan dengan harap-harap cemas kalau sepatu saya rusak (lagi) diterpa genangan-genangan air. Yah begitulah, saya memang selalu bermasalah dengan sepatu dan juga belum ada rapelan yang bisa dialokasikan untuk mendanai sepatu baru (jiaaah, daleeem, curhat!). Sebenarnya tempat itu bukan tempat yang biasa untuk menunggu metro mini, tapi karena metro mini ini jadi favorit dan datangnya jarang-jarang, saya pun ikut nimbrung berlari-lari mengejar metro mini di jalur busway dan mulai terampil serobot sana-serobot sini.

Living in Jakarta is like growing to be an egoist or antipathy, right? :(

Dan di balik kesemrawutan itu, berbondong-bondong bocah-bocah cilik langsung ambil posisi dan menyanyikan lagu Bukan Bang Toyyib yang membuat saya pusiiing sekali. Oooh, tapi syukurlah sekarang bisa duduk tenang menuju rumah dan memandang hujan dengan nyaman.

Life is hard, but we have to be harder, dear.

No comments: