April 3, 2011

Tabungan Rindu

Aku mengguncang tabungan rinduku perlahan hanya untuk mencari tahu apakah masih ada ruang yang tersisa untukku memasukkan lagi beberapa. Tabunganku berbentuk silinder dengan warna hitam pekat – agar tak ada yang dapat mengintip dan melihat. Dan kulingkari dengan pita merah muda juga potongan kertas kuning emas; agar aku dapat menyadari dalam sendu ada keriangan, bahwa selain rindu, aku pun menabung harapan.

Ini bukan pertama kalinya aku menabung rindu. Tapi baru sekarang terasa menyesakkan. Aku menjadi kelebihan air mata, maka kuselipkan setetes-setetes dalam tabunganku. Akhir-akhir ini aku mulai menyisipkan senyum – aku khawatir akan kehabisan – karena menurut prediksiku, nilainya akan menjadi sangat mahal beberapa waktu ke depan.

Tabungan rinduku baru terisi setengah, sedikit kuhemat agar masih dapat kugunakan dalam waktu lama. Aku tak lagi menyimpan cerita – beberapa kubuang saja sebelum membangkai ; sebelum lapuk, mengendap, dan berbau nanah mengotori tabunganku yang satu-satunya.

Aku hanya butuh cara untuk menyembunyikan tabunganku agar isinya tak membuat sesak. Lalu membuat ronggaku meledak.


Sudah kubilang, tak ada yang menyenangkan dari menabung rindu...

3 comments:

Burhanuddin Ojo said...

baru tau, ternyata rindu bisa ditabung.... :)

Daisy said...

jgn sampai tabungan rindu itu terlalu penuh cha. soalnya, bs jadi ntar malah menguap gt aja. karena terbiasa rindu, jd menganggap rindu itu bukan apa2. bukan sesuatu yg butuh dilampiaskan, tp cm sebuah kebiasaan. dan itu ngga enak. :)

creamy_cha said...

@burhan: tentu saja bisa :P

@daisy: iyaa, yang terlalu itu tidak pernah baik. Rindu pun harus ada takarannya ya :)