May 21, 2011

Diary

Jadi begini. Daripada berbasa-basi, singkatnya aku ingin bicara tentang diary.


Aku memperoleh diary pertamaku di usia 7 tahun, bergambar Donald Duck dengan kancing di sampul depannya – hadiah dari Mama karena aku sibuk bercerita tentang euphoria teman-teman memamerkan buku harian mereka – dengan syarat aku tak boleh membawanya ke sekolah dan menyimpannya baik-baik di laci meja belajar yang penuh stiker dan majalah Donald Duck juga.

Diary itu bertahan lama karena isinya cukup tebal. Aku mulai suka menulis, bercerita tentang pengalamanku dengan huruf tegak bersambung dan kata-kata formal layaknya tugas mengarang pelajaran Bahasa Indonesia, dan setelah selesai maka Mama akan membacanya, tertawa, dan memberi saran tentang apa lagi yang bisa kutulis – baiklah ini tidak seperti diary, mungkin lebih tepatnya buku latihan menulis. Sehingga aku menulis hal yang biasa-biasa saja. Lagipula apa yang bisa disembunyikan oleh anak usia 7 tahun saat itu? Yah banyak sih, walaupun pada akhirnya aku mulai menulis hal-hal yang bersifat rahasia seperti keinginanku untuk punya Sega, mendapat nilai jelek yang pertama, ataupun kesedihan yang tiba-tiba begitu saja mencekat di tenggorokan – dan pada fase ini tak ada lagi yang boleh membaca diaryku.

Usiaku beranjak belasan, dan aku mulai beralih dari diary berkancing ke diary dengan gembok yang kuncinya selalu aku sembunyikan. Pada fase ini aku mulai berani bercerita tentang jerawat, tentang senior yang membuatku menangis, tentang sahabat yang mengabaikanku, tentang perasaan berbunga-bunga, dan hal-hal yang tak mungkin bisa diterima oleh sosok-sosok terdekatku saat itu. Dan karena ini diary, maka aku bebas mengugkapkan kata-kataku dengan spontanitas dan blak-blakan, toh setelah itu, aku lega. Sangat lega.

Rok biru sudah berganti menjadi abu-abu, tetapi aku masih percaya dengan diary, hanya saja aku tak lagi suka bercerita di buku itu. Diary baruku tak lagi berkancing, berkunci, atau berpita – standar sekali, seperti agenda biasa – dan sebagian besar berisi tentang perasaanku yang bertanya-tanya pada melodi merah jambu atau kekecewaanku pada sesuatu. Dan buku agenda itu tak pernah terisi penuh hingga sekarang. Aku bosan.

Seluruh diaryku masih tersimpan rapi di lemari buku di rumah. Dan selanjutnya, aku lebih mengalihkan emosiku pada prosa dan metafora – karena dua hal: aku tak perlu terang-terangan mengungkapkan, dan aku lega, lega karena blogku bertambah postingannya dan lega karena aku bisa memilih sesuatu sebagai analogi. Walaupun pada akhirnya, hal ini berbahaya karena jika aku berulang-ulang membaca prosaku (entah itu realita atau imajinasi belaka), emosi dan moodku ikut babak belur, terwarnai oleh metafora itu.

Dan untuk kamu – diary hidup yang pasti sangat bosan karena memory handphone yang penuh dengan sms-smsku yang bertubi-tubi di saat-saat terburukku hanya untuk bercerita apa yang terjadi hari ini – aku berterima kasih sepenuhnya. Ini karena aku percaya, dan aku lega. Walaupun, menurutku, sms itu tak perlu dibaca ataupun seharusnya langsung didelete saja dari folder inbox sesuai permintaanku semula.

Tapi, sungguh, aku lega.

No comments: