May 18, 2011

Ini Tentang Fase

Saya sedang sangat suka membicarakan fase. Dan pada titik yang menjembatani antara ababil dan dewasa ini, saya percaya bahwa setiap orang punya fase hidupnya masing-masing.



Usia saya sudah dua puluh satu – dan di balik wajah sok serius mengurus uang negara dari balik kubikel – saya masih suka membayangkan punya mainan dan hal-hal yang belum bisa saya peroleh di masa kecil. Usia kepala dua, usia yang membuat saya mulai merasa tua alias mulai menyembunyikan tahun lahir di jejaring-jejaring sosial, lalu mulai memikirkan urusan-urusan yang dikerjakan oleh orang-orang dewasa, bergaul dengan orang dewasa, ataupun sudah ada tuntutan untuk bersikap dengan dewasa, dan memikirkan rencana-rencana jangka panjang – ingin kuliah lagi, ingin menikah di usia berapa, ingin beli mobil apa (ngek) – yang mana pencapaian-pencapaian itu jarang sesuai dengan life map yang didesain indah layaknya fairy tale dan pernah dipajang di dinding sebagai tugas saat mata kuliah Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian belaka.

Usia saya sudah dua puluh satu – tapi saya (atau mungkin Anda) merasa mengalami puber yang terlambat, masih sangat suka eskrim, rok warna-warni, pita bikinan sendiri yang menempel di jilbab, atau berjalan kaki menyusuri taman – bebas dari semua unek-unek kejenuhan.

Dan karena setiap orang punya fase hidupnya sendiri, menurut saya kunci utama dari semua ini adalah mau menghargai – bukan hanya oleh yang lebih muda atau yang kurang berpengalaman – tetapi juga oleh yang lebih tua dan yang lebih berpengalaman. Pada titik ini, saya selalu paham bahwa orang-orang yang lebih dewasa khususnya dalam lingkup keluarga terbiasa menuntut agar saya atau Anda bisa berlaku lebih dengan indikator yang diukur dari sudut pandang usia mereka sendiri tanpa mau bercermin dengan mereka di usia saya atau Anda saat itu – apakah memang jauh lebih baik? Dan jika iya atau malah tidak, mungkin ada baiknya saya atau Anda untuk berpikir positif, yakni karena mereka menyayangi saya dan Anda, atau karena mereka telah melihat dunia dengan lebih matang – dan tidak ingin saya atau Anda mengulangi kesalahan yang sama.

I know it's a mistake, but there are certain things in life where you know it's a mistake but you don't really know it's a mistake because the only way to really know it's a mistake is to make the mistake and look back and say 'yep, that was a mistake (Ted - How I meet your mother).

Jadi, biarkan saya berada di fase ini dengan penuh tanggung jawab dan kebebasan dari rasa takut yang tak semestinya – karena kita semua pernah sebahagia ini kan? Pernah merasakan jatuh cinta, patah hati, punya cita-cita, mendaki gunung, nyasar, mendapat pengakuan, memberontak, lalu sadar bahwa ini atau itu yang benar.

Jika saya atau Anda berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat, cukup berikan lampu hijau atau lampu merah, bukan lemparan batu yang membuat luka atau sirine yang membuat kita bingung dan patah arah.

Karena kita semua ingin tumbuh dewasa, tak sekedar menjadi tua.

Dan karena mereka boleh bahagia di fase mereka, kenapa saya tidak boleh bahagia di fase saya? :)


I want to live my life to the absolute fullest. To open my eyes to be all I can be. To travel roads not taken, to meet faces unknown. To feel the wind, to touch the stars. I promise to discover myself. To stand tall with greatness. To chase down and catch every dream. Life is an adventure.

1 comment:

Andy A.Fairussalam said...

Assalamu'alaikum, blogwalking n salam kenal ^_^
Aku follow blog kamu, follow balik ya ke AndyOnline.Net
jangan lupa buat kamu yang suka corat-coret di Blog, yuk gabung di BLOOFERS (Blog Of Friendship)