May 21, 2011

Surat #5: Untuk yang Berhati Kuat

Some friends come and go like a season – if it’s so, I think it’s the autumn – the leaves are falling, and we walk side by side missing sunshine – and it’s you.

Hai kamu, hari ini aku membuka celenganku. Sebenarnya sudah lama sekali aku mengguncang-guncang isinya lalu diam-diam mengintip untuk sekedar mencari tahu apa yang telah kujejali di sana, walau sejujurnya aku tak benar-benar lupa.


Tabungan rinduku riuh, mungkin ada serangga yang nyelip di sana. Tapi ya sudahlah, dia pun tak punya dosa – mungkin hanya ingin mencari tempat berlindung di selipan memori kita yang hangat.

Lalu seketika aku ingat.

Aku ingat saat kita jalan pagi rutin yang terlambat di akhir pekan mengitari kampus dan kos-kosan – memandang pelangi yang tiba-tiba muncul atau sekedar duduk di depan kolam antara gedung I dan gedung J untuk curhat, menyulam kenangan, dan melihat teman berlalu lalang.

Aku ingat saat kita saling inap, belajar bersama untuk ujian Aplikasi Komputer Anggaran dan berusaha tetap waras saat sinyal-sinyal error mulai berkumandang.

Aku ingat saat kita merayakan kebahagiaan uang saku setelah PKL usai, lalu bergegas membeli ini dan itu untuk ayah, ibu, adik, juga kau dan aku – dan kita menikmati roti impian yang akhirnya bisa direalisasikan setelah lama diidamkan.

Aku ingat saat kita tak pernah bisa pulang saat yang lain liburan ke kampung halaman, dan kampus seperti kota tak bertuan – lalu kau segera datang membawakanku es krim dan sepasang telingamu yang selalu siap untuk menghiburku yang kelelahan, sakit, sepi, atau sedang tak punya uang.

Aku ingat detik-detik kita berada di kelas, menghadapi tanya, ujian, dan presentasi dengan tawa; hingga aku bisa belajar menjadi manusia, menjadi berani, dan menjadi diriku sendiri. Dan detik-detik lain – dibenci, ditertawakan, diabaikan, juga detik-detik pertemanan kita dengan yang lain, detik-detik mencoba berbagai diet yang tak pernah usai, tersedu-sedu membaca novel Rectoverso, juga donat lezat istimewamu yang hangat-hangat kau antarkan untukku berbuka puasa saat itu.

Aku ingat saat kau selalu kabur ke lantai tiga DJPU, lalu kita mengadakan sesi curhat di satu meja dengan yang lain, dan karena ini hidup – yang tak pernah bisa diprediksi antara fase satu dan setelahnya, maka semua yang terjadi saat ini jauh luar biasa dari ekspektasi yang pernah aku ceritakan dan kalian dengarkan.

Aku ingat saat kita berlari-lari menyeberang di Bintaro Plaza – dan aku hanya bisa pasrah, lalu kita jalan-jalan dengan dress-dress kesukaan, dan membeli oleh-oleh roti unyil di seberang sambil tertawa terpingkal-pingkal layaknya tak ada beban.

Aku ingat saat kau telah punya pacar – ditemukan, istilah kita; aku bimbang, takut, dan merasa kehilangan, lalu kau pun bilang, “Tak ada yang salah darimu atau pria-pria menyebalkan itu, dia hanya belum dipertemukan olehmu karena Tuhan masih percaya bahwa engkau bisa menjalani semuanya sendirian, dan itu yang lebih baik sekarang”. Ya, kau benar! Dan saat ini, lagu “Sudah jangan ke Jatinangor” tak akan pernah lagi kita lantunkan.

Aku ingat saat kau bertahan dengan rasa sakit dan air mata – dan hingga saat ini kau bisa menghadapinya, karena hatimu yang mulia, lapang, dan penuh keteguhan bahwa hidup adalah memberi kebahagiaan dan kita selalu baik-baik saja – bahkan lebih baik.

Dan, ini yang paling kuingat, saat aku kecewa dengan sesuatu yang bukan pilihan, dan kau mengirimkan kata-kata ini “Tidak boleh begitu, kamu adalah duta, satu-satunya di sana. Ayo tunjukkan bahwa kau bisa, bahwa kita luar biasa”. Dan, fase itu adalah titik balik. Aku mencintai apa yang kupunya saat ini.

Hai kamu, terima kasih. Walau kita tak bisa lagi jalan-jalan bersama, tapi selalu ada ruang yang terselip di pojok yang paling nyaman dalam hati kita masing-masing – kau memang tak tampak, tak selalu ada, tapi kau pernah ada, masih ada, dan akan selalu ada. Semoga kau selalu baik-baik saja, juga keluargamu, dan orang-orang yang kau sayang selalu demikian.

Dan untuk memori saat ini, aku celupkan lagi ke dalam tabunganku. Ditutup rapat. Dibuka lagi nanti – di waktu yang tepat.


Didekasikan untuk Oselva Anestesia Sidauruk – sahabat yang berhati kuat.

4 comments:

Theresia Ratri Widyastuti said...

ada beberapa perasaan yang bercampur baur waktu baca ini. jadi pengen senyum dan nangis di waktu yang bersamaan. Sungguh persahabatan yang indah. Jadi meskipun kalian udah nggak berada di 1 kota yang sama, semoga kalian gak akan pernah saling melupakan ya dan akan tetap saling menyayangi sampai kapanpun :)

oselva anes said...

pipinya masih chubby banget..hehehehe..
di buku angkatan di bagian pesan dan kesan aku nulis,"hari2 penuh sukacita dan pembelajaran ini,bakalan jadi pembakar semangat,kala hidup mulai dingin dan tak ramah"
kenangan dan kebersamaan itu benar2 jadi penyelamat..

creamy_cha said...

@mbak wiwid: iya mbak, terima kasih buat komennya :) ini adalah fase dimana teman harganya sangat mahal dan langka. Irreplaceable yaa kenangan2 waktu kuliah itu :')

@osel: hehe, minta foto barunya dong :) yup, kala hidup mulai dingin dan tak ramah. terima kasih yaa buat pelajarannya yang luar biasa dan tetap ada di sini hingga saat ini ^^

Theresia Ratri Widyastuti said...

wah, ternyata osel juga punya blog. baru tau hehe..
denger kata2 "kala hidup mulai dingin dan tak ramah", jadi berharap semoga akan ada "kala hidup menjadi lebih hangat dan bersahabat"

Semoga :)