May 27, 2011

Turbulensi

Pernahkan kamu mendengar teori turbulensi?
Bahwa kepak sayap kupu-kupu di Kirgistan dapat menyebabkan badai di Pantura?
Artinya, semesta ini semuanya saling berhubungan, berkaitan satu sama lain - Mencari Tepian Langit

Ini tanyaku di suatu kala, “Apakah butuh alasan untuk merindukan?”

“Tidak”

“Kalau begitu. Aku kangen. Kamu”

“Kenapa?”

“Kangen saja”



Karena kita sudah saling berikatan, maka tak lagi butuh alasan. Dan ini seperti teori turbulensi. Kau dan aku layaknya demikian.

Jangan bergerak terlalu jauh atau berbelok ke arah segi yang tak tentu, nanti aku lumpuh – terguncang dalam sadar atau lelap. Dalam diam atau paham. Lalu benang ini putus dan kita butuh waktu untuk memilinnya ulang hingga akhirnya lelah dan menyerah.

Dan karena ini seperti teori turbulensi – sungguh tak bisa kuredam – biarkan aku merindumu sebelum aku tenggelam dalam pusaran yang tak beraturan, juga tarik-menarik dalam helaan napas dan doa yang bersahut-sahutan. Aku rindu, kau pun begitu. Kau ingat aku, aku pun menangis dalam sujudku – memohon temu dan kamu baik-baik selalu. Kenapa begitu, tanyamu. Kontak batin, jawabku.

“Jadi masih butuh alasan?”

“Tidak. Karena aku juga demikian. Kangen. Kamu”

“Kenapa?”

“Kangen saja"

“…”

“Sangat kangen, tepatnya”

Sekejap, rasanya kepak sayap kupu-kupu di Kirgiztan menyebabkan badai di perutku.

3 comments:

Burhanuddin Ojo said...

ciee, yang lagi kangen....

creamy_cha said...

ini metafora kok :)

indra allif said...

Suka bngt sm yg ini