June 10, 2011

Menahan

Diam dan menangis itu sebabnya sama. Menahan kata dan menahan luka. Dampaknya pun sama. Sakit. Seperti menelan bongkahan batu yang tertahan di tengah-tengah kerongkongan.

Seperti itulah.

Akhir-akhir ini kita jarang menangis. Mungkin Juni memang jauh lebih ramah, atau sang hati yang sudah terampil menjahit selimutnya sendiri – hingga dia baik-baik saja.

Sebenarnya tidak demikian.


Kita hanya butuh bahu, atau satu titik yang tepat untuk berucap.

Boleh?

3 comments:

bunavita said...

huwaaaaaaa.... dalem! love it!

Nikki Wirawan said...

nice banget cha!!
kena banget nih hehe :)
quotenya juga mantap

creamy_cha said...

thanks guys :)

menahan membuat kita berharga, teman :)