July 6, 2011

Wibawa

Mereka bilang cinta itu butuh wibawa. Aku pun percaya lalu mengangguk sekali dua kali.


“Aku kuat kok. Karena ini masalah waktu, hanya membiasakan hal yang tidak biasa” – lalu aku menangis dalam diam. Senyum-senyum sipu sampai bermuka merah.

“Aku bisa sendiri kok” – lalu aku berjalan dalam hening berandai-andai jika kita bersisian.

“Aku baik-baik saja kok” – lalu aku menjadi sibuk beranjak kelelahan agar tak merindumu.

Rindu itu harus dihemat, diam-diam tak diungkap, nanti nilainya pudar. Rasanya jadi hambar. Setuju?

|@auliagassi @chabadres hati-hati meledak, icha. semua hal punya tanggal kadaluwarsa.

Mereka bilang cinta itu butuh wibawa. Aku pun percaya lalu mengangguk sekali dua kali – karena memang tak perlu setragis itu.

Sesederhana itu bukan?

3 comments:

amela said...

sama.. saya merasakan hal yang sama

Annisa said...

Rindu ibarat uang..alat tukar untuk membeli kebahagiaan saat bertemu kembali. Dan saya nggak keberatan untuk rajin menabung ;)

Farisa Badres said...

@amela: bersyukurlah masih bisa merindu :)

@esti annisa: analogi yang bagus sekali, esti :') tapi saya juga paling tidak suka perasaan seperti ditinggalkan setelah bertemu :) aaah