August 11, 2011

#3 Self Note

Akhir-akhir ini rasanya waktu berjalan sangat cepat – setelah belasan jam berada di tempat yang sama lalu bertemu orang-orang yang sama lalu pulang dalam keadaan lunglai, tidur, bangun lagi, berpacu dengan waktu lagi, lalu tidur lagi – rasanya aku sering tidak siap untuk menghadapi siklus yang statis ini.

Seseorang bilang bahwa ini adalah fase dimana hidup sudah tak lagi hangat dan ramah – mencari teman baik semakin sulit juga waktu yang tersedia untuk diri sendiri atau orang-orang yang dicintai juga ikut menipis.

Entahlah – lagi-lagi menurutku ini masalah fase – mungkin juga efek kelelahan yang sangat atau rasa rindu yang coba ku tahan atau mungkin pergolakan batin yang membuat ingin kian memberontak – dan beralih aku baik-baik saja dengan semua ini.

Kenapa sudah pagi lagi? Kalimat ini yang dominan kukatakan sebelum matahari terbit dan menghalauku lari terbirit-birit – satu hal saja ada yang mengganggu seperti pakaian kusut yang harus disetrika ulang atau tas yang belum dibereskan – sudah membuatku frustasi sesaat.

Istilahnya, jika disenggol sedikit saja dalam keadaan ini, lantas berubah jadi air mata – mungkin.

Sekarang aku mengerti mengapa kaum urban cenderung menjadi skeptis, egois, dan eksklusif. Dan aku harus belajar percaya bahwa sikap itu tak mengapa – sesekali, toh orang dewasa harus tahu apa yang membuatnya bahagia.

Akhir-akhir ini rasanya waktu berjalan sangat cepat – dan aku merasa lebih tua dari usiaku. Lalu mengeluh begini begitu yang tak perlu, sedih sendiri selalu, seperti kehilangan sesuatu.

Aku sungguh harus memperbaiki sujudku, syukurku, sabarku. Aku kangen Tuhanku dengan setangis-tangisnya kerinduan. Mungkin itu.

Memang itu. Itu yang hilang.

6 comments:

Rumah Dijual said...

nice artikelnya,,,

Tsukuyomi said...

Kehidupan jekarda

semoga anda mulai terbiasa..

Naya said...

been there, done that sist... actually still in present tense. but i think it's fine to let the tears spill if the glass isn't tall enough - yet. we shall make a way to heighten it in time, won't we dear?

destian said...

artikel yang bagus ...

amela said...

Sama,. begitu akhirnya bener-bener masuk di dunia kerja, ketemu rutinitas, entah kenapa waktu serasa berlari tanpa jejak, tak terkejar

Farisa Badres said...

thanks for reading :)

@naya: yes, we will. Everyone has his own process to toughen heart, right? :))

@amela: benar sekali :) waktu mulai berkhianat :P hehe